Menhan AS Emosi saat Ditanya Kondisi Mental Trump saat Perangi Iran
KORANRIAU.co- Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth berkelit saat ditanya kondisi mental Presiden Donald Trump terkait perang Iran.
Hal itu bermula saat Hegseth bersaksi di
depan Kongres AS terkait perkembangan perang di Iran yang sudah memasuki bulan
kedua pada Rabu (29/4).
Hegseth mendapat pertanyaan dari anggota Kongres
partai Demokrat Sara Jacob dalam sesi public questioning itu.
Kepada Hegseth, Sara bertanya terkait kondisi
kesehatan mental Trump selama ini, terutama selama memerintahkan perang melawan
Iran.
Saat bertanya, Sara mengutip beberapa unggahan
Trump dan dikaitkan dengan kekhawatiran keluarga militer.
Selama perang, Trump berulang kali mengancam Iran
dan mengunggahnya di media sosialnya, Social Truth. Dalam beberapa postingan,
politikus Republik itu kerap mengeklaim kemenangan, kondisi Iran yang
kolaps tanpa bukti, hingga berapi-api mau memusnahkan bangsa Iran selama perang
berlangsung.
"Saya sudah mendengar dari begitu banyak
keluarga militer yang khawatir tentang kesehatan mental Presiden dan apakah dia
layak untuk menjabat sebagai Panglima Tertinggi kita, mengingat dia mengirim
orang-orang terkasih mereka ke medan perang," kata Sara.
Menurut Sara, militer AS perlu mengetahui bahwa
para pemimpin mereka fokus dan stabil. Sebagai panglima tertinggi, kesehatan
mental Trump juga penting untuk keberlangsungan pemerintahan dan negara.
Sebagai Menhan, Sara meyakini Hegseth lebih banyak
menghabiskan waktu bersama Trump dan dianggap lebih mengenalnya.
"Saya sedih harus bertanya soal ini, soal
presiden kita, tetapi nyawa orang-orang yang saya wakili dipertaruhkan. Apakah
Anda percaya bahwa Presiden cukup stabil secara mental untuk menjadi Panglima
Tertinggi?" tanya Sara dalam video yang diunggah di X.
Sara adalah perwakilan dari San Diego, wilayah
dengan komunitas militer terbanyak di AS. Saat ini, berdasarkan perkiraan dia,
sekitar 2.500 marinir San Diego berada di lepas pantai Iran.
Hegseth merespons dengan balik bertanya dan
membandingkan pemerintahan sebelumnya di bawah pimpinan Joe Biden.
"Apakah Anda mengajukan pertanyaan yang sama
kepada Joe Biden selama empat tahun?" tanya Hegseth. Dia tampak marah
dengan pertanyaan yang diajukan Sara.
Keduanya lalu beradu argumen. Sara mengatakan Biden
bukan presiden AS saat ini dan Trump sudah menjadi pemimpin selama satu
setengah tahun.
"Saya bertanya kepada Anda sekarang.."
kata Sara yang langsung disela Hegseth.
"Saya bahkan tidak akan menanggapi tingkat
penghinaan yang Anda berikan ke Panglima Tertinggi," kata Hegseth.
Di AS, Presiden juga menjadi panglima tertinggi
dan secara otomatis juga punya kendali langsung ke militer.
"Dia adalah Panglima Tertinggi yang paling
cerdas dan berwawasan luas yang pernah kita miliki dalam beberapa generasi,"
ujar Hegseth.
Bagi dia, Trump lebih baik daripada Biden yang
dianggap sering gagap di depan publik karena faktor kesehatan dan
"memerintah dengan autopen."
Sara terus menegaskan yang ditanya adalah kondisi
pemerintahan saat ini.
Hegseth lagi-lagi tak menjawab dengan jelas. Dia
kembali mengalihkan pembicaraan dengan menjelek-jelekkan pemerintahan Biden.
Sara lantas kembali mempertanyakan unggahan Trump
di TruthSocial saat Paskah.
Ketika itu, Trump mengunggah gambar AI yang
mendeskripsikan dirinya bak Yesus Kristus. Postingan ini memicu kritik tajam
dari umat Kristiani di tengah kekhawatiran warga AS soal perang dengan Iran.
"Saya Yahudi, jadi ini tak terlalu mengganggu
saya, tetapi sepemahaman saya ini cukup menyinggung banyak orang Kristen. Jadi,
bagaimana Anda menjelaskan postingan ini?" tanya Sara.
Hegseth menjawab singkat, " Saya di sini
bukan untuk menjelaskan postingan."
"Kita punya panglima tertinggi yang luar
biasa yang mengutamakan pasukan kita. Saya di sini untuk sidang anggaran soal
pasukan kita," imbuh dia.
AS dan sekutunya Israel meluncurkan serangan
brutal ke Iran pada 28 Februari. Sejak itu, mereka tak habis-habis menggempur
negara Timur Tengah ini.
Iran langsung membalas serangan termasuk menutup
jalur pelayaran minyak global Selat Hormuz.
Kini perang AS dan Iran sudah berlangsung 60 hari.
Trump harus mengantongi lampu hijau dari Kongres jika ingin melanjutkan
serangan ke Iran.
cnnindonesia

