Browsing "Older Posts"

  • Mereka yang Habib dan yang Bukan Habib

    By redkoranriaudotco → Rabu, 03 Oktober 2018

    Mereka yang Habib dan yang Bukan Habib
    Oleh: Funco Tanipu



    Judul berita “Mereka Yang Habib dan Bukan Habib” dari hasil riset mendalam media online Titro.id sangat mengejutkan. Polemik yang berlangsung ratusan tahun ini diulas oleh Tirto dengan apik. Tirto menurunkan lebih dari 10 tulisan terkait ini. Serial tulisan dari media Tirto ini adalah bagian dari penjelasan detail mengenai sejarah keturunan Nabi (Bani Alawiyyin) di Indonesia.

    Bani Alawiyyin atau juga biasa disebut sebagai Bani Ba’alawi adalah bagian dari keturunan Nabi. Dalam silsilah dan sejarah keluarga menurut Habib Zein Umar bin Smith yang juga Ketua Umum Rabithah Alawiyah, “hijrah” pertama keturunan Nabi yang pindah ke Hadramaut dari Basrah ialah Habib Ahmad al-Muhajir—atau generasi ke-8 dari keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Habib Ahmad pergi bersama keluarganya. Sementara saudaranya, Habib Muhammad bin Isa, tetap di Irak, di masa pemerintahan Khalifah Abbassiyah. Ia mendapat julukan al-Muhajir karena berhijrah ke Hadramaut.

    Menurut Habib Zein Umar bin Smith berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Tirto bahwa sebelum ke Hadramaut, Yaman, pria yang lebih dikenal Al-Imam Ahmad bin Isa ini semula hijrah ke Madinah dan Mekkah, sekitar 896 Masehi, di dekat makam buyutnya. Alasan kepindahannya karena saat itu ada banyak fitnah bahwa keturunan Rasulullah bakal mengambil alih kekuasaan. Fitnah ini membuat pemerintah yang berkuasa saat itu cemas sehingga banyak keturunan Nabi diburu bahkan dibunuh.

    Disebut Bani Alawi karena merujuk pada silsilah Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Jakfar as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaen al-Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Fathima Azzahra binti Muhammad SAW. Alawi merupakan generasi pertama dari keluarga Ahmad al-Muhajir yang lahir di Hadramaut. Ahmad al-Muhajir dan anak-anaknya sendiri berasal dari Irak.

    Alawiyyin atau biasa disebut Alawiyah didirikan oleh Habib Muhammad bin Ali Baalawi atau yang dikenal dengan gelar Al-faqih Mukaddam di Hadramaut pada abad 10 masehi. Alawiyah bukan saja sebuah kaum, tetapi adalah juga tarekat sufi. Terbentuknya bani ini karena memiliki akar sejarah pada upaya perebutan kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan. Melalui peperangan dan intrik politik, Muawiyah berhasil mengalahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

    Kekalahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menandai berakhirnya era Empat Khalifah yang Terpercaya” atau dikenal dengan istilah “Khulafaur rasyidin”. Sejak saat itulah berdiri sitem kerajaan dalam dunia Islam tapi dengan tetap memakai gelar Khalifah. Seluruh raja dari dinasti Umayyah yang didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan memakai sebutan khalifah. Demikian pula dengan dinasti-dinasti selanjutnya seperti Dinasti Abasiyah di Baghdad dan Dinasti Ottoman.

    Dalam catatan Tirto sesuai penurutan Ketua Rabithah, Bani Ba’alawi masuk di Indonesia sejak dahulu untuk menyiarkan Islam. Hingga pada awal abad 20, didirikanlah Rabithah Alawiyah untuk menjadi bagian dari memverifikasi dan mengotentifikasi mana yang sayid dan mana yang bukan. Organisasi ini juga sekaligus untuk membentengi keluarga Alawiyyin dari pernyataan Syekh Ahmad Surkati, salah seorang petinggi di Jamiat al-Khair, yang menyatakan bahwa membolehkan pernikahan seorang syarifah, perempuan keturunan sayid, dengan non-sayid. Pernyataan ini kemudian memicu konflik, hingga memunculkan Rabithah Alawiyah sebagai organisasi induk Bani Ba’Alawi.

    Rabithah Alawiyah didirikan bermaksud untuk memverifikasi dan mengotentifikasi kembali tiga golongan orang-orang Hadramaut, sayyid dan non sayyid. Menurut Rabithah Alawiyah, bagi masyarakat penting untuk tahu dan bisa memilah mana Sayyid dan mana Habib. Karena tidak semua Sayyid bisa dipanggil Habib. Namun, semua sayyid sudah pasti garis keturunan Nabi.

    Rabithah Alawiyah, organisasi pencatat keturunan Nabi Muhammad, mendata ada 151 marga segaris keturunan Nabi yang masih ada di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, dari 100 an kabilah Assadah Alawiyah, kini hanya 68 marga keturunan sayid yang tersisa. Mereka menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, dari Jakarta, Surabaya, Sumatera hingga Kalimantan. Marga-marga Alawiyin antara lain ; Alaydrus (atau Al-Eydrus, Al-Idrus), bin Yahya, Syekh bin Abubakar bin Salim, Bilfaqih, Assegaf, al-Jufrie, al-Attas, Alhaddad, Alhabsyi, bin Syahab, Alhamid, Almuhdor, dan banyak marga lainnya.

    Selain kaum Alawiyin, banyak pula orang Hadramaut ke Nusantara tanpa ada hubungan dengan keluarga Nabi. Mereka disebut masaikh dan qabail. Golongan ini tetap memiliki marga. Rabithah Alawiyah mencatat ada 239 marga orang Arab di Indonesia yang tidak termasuk Alawiyin. Beberapa marga non-Alawiyin mungkin kita kenal. Misalnya Bachmid, Alamari, Basalamah, Baladraf, Al Gadri, Ba’asyir, dan Bamu’min serta banyak marga lainnya.

    Polemik yang saat ini terjadi adalah ketidaktahuan masyarakat soal memilah mana Habib dan mana bukan Habib. Bagi masyarakat awam, yang Arab bisa dipanggil Habib, walaupun bukan dari garis keturunan Sayyid. Sehingga, verifikasi dan otentikasi dari Rabithah Alawiyah sangat ketat. Maktab Daimi selaku organisasi dibawah Rabithah Alawiyah menjadi perpanjangan tangan dalam melakukan pencatatan nasab serta melakukan otentifikasi dan verifikasi nasab secara lebih detail.

    Salah satu polemik yang menjadi kasus nasional adalah upaya fitnah yang dilakukan terhadap Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus. Fitnah yang dilancarkan adalah informasi sepihak mengenai ketidakjelasan status Habib dari Habib Muhammad Effendi Al-Eydrus. Fitnah yang digencarkan ini tidak lain adalah upaya memecah belah bani Ba’alawi itu sendiri. Efek negatifnya adalah banyak masyarakat yang terpapar oleh isu negatif tersebut hingga kemudian menjadi tidak percaya status nasab dan bahkan meyakininya.

    Walaupun status dan garis keturunan Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus telah diverifikasi dan diotentifikasi sejak tahun 1997 dengan mengeluarkan buku nasab dengan nomor 004904 pada tanggal 7 Juli 1997 oleh Almaktab Addaimi yang menjadi bagian dari kantor pemeliharaan sejarah dan statistik Alawiyyin yang berinduk pada Rabithah Al-Alawiyah, namun upaya pengaburan status dan otentikasi ini tetap dilakukan oleh Sayyid Hasan bin Soleh Al-Jufri dengan mengirimkan surat ke Rabithah Alawiyah dengan nomor 012/RA-YK/VII/2018 tentang peninjauan kembali status Habib Muhamad Effendi bin Hasan Badri sebagai dzurriyah Habib Mustofa bin Syarief Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban.

    Maktab Daimi sebagai perpanjangan Rabithah Alawiyah yang khusus untuk memverifikasi dan melakukan otentikasi pun melakukan penjelasan bahwa nasab (garis keturunan) setelah melakukan konfirmasi kepada Habib Ahmad bin Ali bin Hasan bin Tohir bin Syarief Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban. Tim dari Maktab Daimi pun melakukan konfirmasi kembali ke Syarifah Zubaidah binti Hasyim bin Mustofa bin Syarif Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban dan Syarifah Aisyah binti Hasyim bin Mustofa bin Syarif Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban. Maktab Daimi juga melakukan penelusuran hingga makam Habib Mustofa bin Syarif Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban di Tambarangan, Rantau, Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.

    Penelurusan yang panjang dan berliku ini membuahkan hasil yang kemudian oleh Maktab Daimi melalui Surat Keputusan No. 03/SK/MD-RA/IX/2018 menetapkan dan mengukuhkan kembali keabsahan nasab dari Habib Muhamad Effendi bin Hasan Badri bin Hasyim bin Musthofa bin Syarif Ali Al-Eydrus Sultan Sabamban. Surat keputusan ini ditandatangani oleh Sayyid Ahmad Muhamad Alatas sebagai Ketua Maktab Daimi dan Muhammad Bagir Alhaddad.

    Berkaca dari contoh kasus fitnah yang kemudian menjadi polemik tersebut, banyak catatan penting untuk pelajaran bersama kedepan. Maktab Daimi yang kemudian mengeluarkan surat keputusan pengukuhan kembali mengenai status nasab, yang dari surat itu meluruskan polemik yang kberubah menjadi fitnah, hingga kini menjadi lebih terang dan berbuah pada hal positif. Catatan penting dari polemik ini antara lain bahwa ; (1). Pencatatan nasab adalah sangat penting untuk bagian dari verifikasi dan otentifikasi mana kalangan Sayyid dan non Sayyid, termasuk melihat mana kalangan Syarifah dan non Syarifah, karena akan sangat erat kaitannya dengan status pernikahan diantara kalangan Bani Ba’alawi yang kini mulai menjauh dari garis ketentuan bahwa syarifah tidak boleh dinikahi oleh kalangan non Sayyid. (2). Fitnah yang kini melanda kalangan Sayyid menjadi terang bahwa ada indikasi untuk memecah belah kalangan Sayyid yang diinginkan oleh pihak tertentu dengan kepentingan jangka pendek, baik itu politik, ekonomi atau faktor lainnya. (3). Pencatatan hingga verifikasi dan otentifikasi menjadi sangat urgen untuk kemudian menjaga ikatan keluarga dan memelihara akhlak serta praktik syiar Islam yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAAW. (4). Bagi kalangan awam, menjadi penting untuk memahami otentikasi nasab ini sebagai bagian dari ikhtiar memilih dan memilah mana yang Habib dan mana yang bukan Habib, untuk kemudian memilah mana yang diikuti dan tidak. (5). Praktik fitnah yang selama ini dianggap sebagai hal “normal” dan “wajar” dalam masyarakat Indonesia adalah praktik yang jauh dari akhlak Nabi, karena efeknya bisa membuat rusak ikatan persaudaraan dan menimbulkan efek domino negatif yang lebih buruk bagi keutuhan umat Islam sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

    Sumber :

    1. Taufik Abdullah, dkk., Muncul dan Berkembangnya Faham-Faham Keagamaan Islam di Indonesia, 2008
    2. Jajat Burhanudin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia, 2012
    3. Herry Mohammad, dkk., Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh Abad 20, 2006
    4. Natalie Mobini-Kesheh, The Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900–1942, 1999
    5. Deliar Noer, The Modernist Movement in Indonesia 1900-1942
    6. Huub de Jonge, Jakarta-Batavia: Socio-cultural Essays, 2000
    7. Lodewijk Willem Christiaan van den Berg dalam Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, 1989
    8. https://tirto.id/perseteruan-orang-orang-arab-di-indonesia-chmD
    9. https://tirto.id/kita-harus-bisa-memilah-antara-sayid-dan-habib-chc8
    10. https://tirto.id/mereka-yang-habib-dan-yang-bukan-habib-chde
    11. https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-1-siapakah-habib/
    12. https://www.idntimes.com/news/indonesia/irfan-fathurohman/ini-sejarah-masuknya-habib-di-indonesia-hingga-terjun-ke-islam-politik-1/full
    13. https://kumparan.com/@kumparannews/jejak-habib-di-indonesia
    15. http://www.suarapembaharu.com/2018/09/surat-keputusan-maktab-daimi-rabithah.html
    16. Surat Keputusan Maktab Daimi 03/SK/MD-RA/IX/
    17. Buku Nasab Habib Muhamad Effendi Al-Eydrus No : 004904 sejak 7 Juli 1997



    *) Penulis adalah pengajar di Universitas Negeri Gorontalo

  • 696 Hektar Kebun Sawit Warga di Bukit Intan Makmur Mulai Direplanting

    By redkoranriaudotco → Senin, 01 Oktober 2018



    KORANRIAU.co, Rokanhulu -- Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) Pusat, sekitar 696 hektar kebun kelapa sawit warga di Desa Bukit Intan Makmur, Kecamatan Kunto Darussalam, Rokan Hulu, Riau yang dinaungi KUD Intan Makmur mulai direplanting pada Sabtu (29/9/2018) lalu.

    Pembukaan replanting ini dihadiri langsung oleh Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Rokan Hulu, Camat Kunto Darussalam, Kapolsek, Danramil, Kepala Desa serta masyarakat penerima program peremajaan.

    Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) ini dikerjakan oleh PT Buana Orbit Sejahtera dan CV Herman Group mulai dari replanting hingga penanaman kembali tanaman kelapa sawit warga.

    Menurut Humas PT Buana Orbit Sejahtera, Jhoni didampingi pihak CV Herman Group, saat ini program ini sudah mulai dikerjakan dan ditargetkan pada akhir 2018 mendatang sudah selesai.

    “Peremajaan sawit warga ini merupakan program Pemerintah. Kita sebagai pihak yang ditunjuk melaksanakan program ini, sudah siap dan kita optimis pengerjaannya siap sesuai jadwal yang ditentukan, katanya, Ahad (30/9/2018) di sela-sela kegiatan replanting.

    Program peremajaan ini tambah Jhoni, digunakan mulai dari replanting hingga penanaman, termasuk juga pengadaan bibit. “Kita memberikan yang terbaik, termasuk bibit yang bersertifikat, agar tanaman warga hasilnya memuaskan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Anto, salah satu penerima bantuan program peremajaan kelapa sawit ini mengaku berterimakasih kepada pemerintah yang sudah peduli kepada masyarakatnya.

    “Alhamdulilah ya mas, dengan adanya bantuan ini sangat membantu kami masyarakat desa ini. Kalau kami kerjakan sendiri, pasti membutuhkan modal yang cukup besar,” ungkapnya.

    Dikatakan Anto tanaman kelapa sawit warga yang berada di naungan KUD Intan Makmur rata rata sudah tua, yakni pada tahun tanam 1992-1993. “Intinya kami sangat bersyukurlah mas atas adanya program ini,” pungkasnya. (Despandri)

  • Pertamina Berupaya Tingkatkan Pasokan BBM

    By redkoranriaudotco →
    ( Foto : pertamina.com)
    KORANRIAU.co, Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus berupaya untuk meningkatkan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya solar ke rumah sakit, PLN dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar penanganan korban gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Selatan bisa maksimal.



    Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region VII Pertamina Roby Hervindo mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan industri untuk mendatangkan mobil tangki pengangkut BBM. "Saat ini sudah tersalurkan 1.500 liter untuk Rumah Sakit Undatu, Palu, 2.000 liter untuk Kantor PLN Area Palu dan 5.000 liter untuk Posko Basarnas Palu," katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan dikutip dari CNN Indonesia pada Senin (1/10/2018).



    Pasokan solar juga dikirim ke Rumah Sakit Parigi. Roby mengatakan jumlah solar yang dikirim ke rumah sakit tersebut mencapai 2.000 liter dan premium sebanyak 2.000 liter.



    Selain pasokan tersebut, guna meningkatkan pasokan BBM ke wilayah terdampak gempa dan tsunami Donggala dan Palu, Roby mengatakan saat ini Pertamina juga melakukan pengisian ke Kapal SAR Kendari sebanyak 20 ribu liter via Terminal BBM Poso. Kapal tersebut saat ini tengah dalam perjalanan.



    Pertamina juga telah berkoordinasi dengan Bekang Kodam Merdeka untuk pengambilan BBM di Bitung dan Gorontalo untuk selanjutnya dibawa tim Kodam ke Palu. "Kami berupaya agar seluruh pihak bisa mendapatkan pasokan solar, namun tetap prioritas pada layanan kemanusiaan agar penanganan korban dan pemulihan paska gempa teratasi," katanya.



    Gempa dan tsunami yang terjadi Jumat (28/9) lalu melanda Donggala dan Palu. Menurut Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan sampai dengan Minggu (30/9) kemarin bencana tersebut telah mengakibatkan 832 orang meninggal dunia ratusan lainnya luka-luka dan ribuan masyarakat mengungsi. **

  • Hindari Sepeda Motor, Truk Tangki Pertamina Panjat Pagar Flyover

    By redkoranriaudotco →

     
    Seorang personel kepolisian sedang mengatur lalu lintas Seni pagi (1/10/18). Di belakangnya tampak truk tangki Pertamina yang ‘memanjat’ pagar jalan layang (flyover) Sudirman-Imam Munandar akibat menghindari sepeda motor. (foto: Wahyu Falatehan/Koran Riau)



    KORANRIAU.co, Pekanbaru – Arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, persisnya di jalan layang (flyover) Sudirman-Imam Munandar pada Senin pagi (1/10/18) sedikit terganggu. Satu unit truk tangki bermerek Pertamina tampak berada di atas pagar pembatas jalan layang.

    (foto: Wahyu Falatehan)
    Informasi yang didapat Koran Riau di lapangan, truk itu dikemudikan oleh Igel. Ia dalam perjalanan menuju depot Pertamina di Jalan Tanjung Datuk, Pekanbaru dari Tekukkuantan, Kuantan Singingi. Truk dalam keadaan kosong.

    Peristiwa itu terjadi sekira pukul 06.45 WIB. Pengakuan Igel, ia menghindari dua sepeda motor motor yang menaiki jalan layang itu. Meski sempat terserempet dan terjatuh, kata Igel, namun pengendara langsung kabur.

    Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun kerugian materil tentu ada.

    Pantauan di lapangan pada pukul 07.00 tadi, personel kepolisian sudah berada di lokasi. Selain menanyi supir truk tangki, petugas juga mengatur lalu-lintas. Bias dimaklumi karena peristiwa terjadi pada jam sibuk. (Wahyu)

  • Tanggap Balik 77 Tahun Tabrani Rab

    By redkoranriaudotco →

    Tanggap Balik 77 Tahun Tabrani Rab
    Oleh: Taufik Ikram Jamil

    Taufik Ikram Jamil


    Diminta memberikan refleksi alias tanggap balik 77 tahun Tabrani Rab, Sabtu malam (29/9), saya memang merasa gugup. Pasalnya, acara untuk itu dibuat Ahad esoknya, sedangkan Tabrani bagi saya bukanlah sembarang orang. Terlalu banyak sebutan yang disandangnya dengan pencapaian yang tak tanggung-tanggung pula.

    Untungnya, balasan pesan pendek melalui telepon genggam kawan saya Abdul Wahab yang tinggal di kawasan Selat Melaka sana, sampai satu jam sebelum acara dimulai. Berjujai-jujai pesannya muncul dengan satu benang hijau yang jelas las las las. 

    “Bagaimana kita merefleksikan atau menanggap balik hari kelahiran Prof Dr Tabrani Rab sekarang, kalau tidak mengajukan sejumlah pertanyaan?” tulisnya.

    Ia cepat menyambung, “Tak satu, tak dua, mungkin puluhan, bahkan tidak terhingga. Pasalnya suatu pertanyaan melahirkan pertanyaan. Dan anehnya, semua jawaban dapat diketagorikan benar, tergantung dari sudut mana kita memandang. Sementara Tabrani telah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan caranya sendiri.”


    Kemudian Wahab menulis bahwa di tengah kesibukannya melayani pasien, ia masih berbicara Albert Camus yang terasing dan berkuasa. Tapi ia juga menulis puisi dari hal-hal kecil semacam lalang dengan pertanyaan mengapa bernama lalang, kemudian bagaimana api melahapnya sehingga kemudian hanya menjadi kenangan.

    Di sisi lain disentuhnya Tahar ben Jellooun dan Nadjib Mahfouz dengan kedai kopi di sudut kota Kairo yang bergelora. Lalu mengelak dari Socrates, tapi juga bukan berpaham dengan Ibnu Khaldum. Adam Smith dan Kierkegard menyatu, tanpa dilupakannya Yung Saleh yang terpongkeng-pongkeng menjual ojol dengan harga secebis.

    Tabrani Rab


    Dengan duka lara diceritakanya pula Leman Kengkang dan Atan Ketip yang mengaruk limbah dari perairan Selat Melaka, sedangkan ikannya lari entah ke mana. Juga orang-orang mengadu untung ke Malaysia, selain Sakai dan Akit yang senantiasa terdera. Bertahun-tahun Tempias, menempias bilik-bilik pertemuan para eksekutif dan legilatif, dengan kocak, manja, bahkan semua sifat yang ada. Ketawa, sinis, bahkan sergah, terangkai dalam kepiawaian budak Melayu jati.

    Alih-alih kemudian ia berpindah pada sekolahnya yang izinnya dihambat-hambat, kemudian berlari ke Jalan Riau untuk melihat pembangunan suatu tempat yang seperti akan menampung semua pikirannya sekaligus wujud sebagai apa pun namanya. Ia beriteriak lantang sekaligus memimpin Riau merdeka, tapi juga tidak ingin darah tumpah di sini. Ia terima dewan otonomi daerah tanpa melepaskan pemuliaan terhadap manusia yakni penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia.

    Ia lebih dari apa yang dibayangkan Sulalatus Salatin dengan tokoh bernama Raja Suran. Seorang sosok yang coba mencari kehidupan di dasar lautan dengan kaca besar sebagai pesawat pada abad ke-17, jauh sebelum Eropa memperhatikan kekayaan maritim. Soalnya, Tabrani tidak hanya bertanya dalam kemuakan semuak-muaknya seperti Raja Suran, tetapi sekaligus menjawab sehingga kita bisa melihat hari ini bagaimana harapannya terwujud. Terlebih lagi, perwujudan harapan itu amat disokong oleh putra-putrinya. Suatu rangkaian yang amat bedelau nian, alhamdulillah.

    Terakhir Wahab menulis, “Malahan apa yang dihadapinya kini, yang kita namakan sakit, adalah bentuk lain dari buncahan pertanyaan sekaligus jawaban. Bisa jadi suatu kemerdekaan yang hakiki agar kita bisa berbuat lebih baik. Pada gilirannya, Tabrani Rab sudah bisa mengatakan bahwa ia telah menjawab saat kita masih bertanya-tanya.”

    Terus-terang, saya masih ingin bertanya Hab…. 



INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0812 6670 0070 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com