KORANRIAU.co,PEKANBARU- Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Pekanbaru yang menaungi Wilayah Riau, Kepulauan Riau (Kepri), dan Sumatera Barat (Sumbar) mengambil tindakan tegas menyingkapi kasus dugaan keracunan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dumai, Kamis (13/8) lalu.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan menu makanan
yang diduga membuat puluhan murid sekolah dasar muntah-muntah dan mual tersebut
langsung dinonaktifkan. “Kami sudah mengambil tindakan tegas berupa men-suspend
(penghentian sementara) SPPG (dapur) dan menonaktifkan kepala SPPG-nya,” ujar
Kepala KPPG Pekanbaru dr Syartiwidya, Jumat
(14/8).
Diberitakan sebelumnya, data dari kepolisian, sebanyak 45 murid dari dua SD
di Dumai mengalami sakit perut dan mual-mual usai menyantap makanan yang
disalurkan melalui dapur pelaksana program MBG di
Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Timur.
Dari jumlah tersebut, 43 merupakan murid SDN 013 Jalan Hangtuah dan dua
lagi merupakan murid SD Negeri 015 Laborhausing. SPPG yang menyalurkan makanan
tersebut adalah SPPG Yayasan Mahudun Untuk Negeri.
SPPG yang terletak di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan
Dumai Timur mendistribusikan menu makanan MBG kepada
3.199 penerima manfaat. Selain SDN 013 dan SDN 015, distribusi juga menyasar
sejumlah sekolah dan posyandu.
Terkait hasil pendalaman penyebab dugaan keracunan murid SD ini, KPPG
Pekanbaru menduga berasal dari bakso yang disajikan dengan
cabai yang menjadi menu saat itu. “Dugaan sementara itu berasal dari cabai
baksonya. Tapi untuk pastinya kami masih menunggu hasil laboratorium,”
sebutnya.
Sedangkan untuk kondisi anak-anak yang sebelumnya sempat mendapatkan
perawatan di rumah sakit, Syartiwidya, menyebutkan bahwa saat ini sebagian
besar sudah diperbolehkan untuk pulang dan tersisa satu orang. “Kalau untuk
anak-anak yang sebelumnya sempat mendapat perawatan di rumah sakit, hanya
tinggal satu orang lagi,” ujarnya.
Agar kejadian serupa tidak terulang lagi, disebutkannya saat ini bahwa BGN
sedang berbenah. Salah satunya penggunaan aplikasi yang harus diisi setiap
hari, mulai dari tahapan proses, bagaimana bahan baku, hingga distribusinya.
“Kemudian juga harus dilakukan pencicipan dua lapis. Baik oleh SPPG dan
juga ketika tiba di sekolah. Jadi kalau tiba di sekolah sudah tidak bagus. Itu
seharusnya tidak boleh didistribusikan lagi,” sebutnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Riau Pos, Kamis (13/8) lalu, pasokan
menu MBG dari SPPG Yayasan Mahudun Untuk
Negeri ini tiba di SDN 013 Dumai, sekira pukul 08.00 WIB. Sesuai prosedur
pendaftaran dan penerimaan, penanggung jawab (Person in Charge/PIC) sekolah
bernama Atmawirawan, langsung melakukan pemeriksaan awal terhadap kemasan serta
sampel makanan.
“Prosedur penerimaan MBG ada beberapa guru yang ditunjuk untuk menerima,
termasuk saya salah satu yang bertugas sebagai PIC untuk melihat makanan yang
datang, dan mencium,” kata Atmawirawan saat dikonfirmasi Riau Pos, Kamis (13/8)
malam. rpc

No Comment to " Dapur Di-suspend, Kepala SPPG Dinonaktifkan, Penyebab Dugaan Keracunan MBG di Dumai Tunggu Hasil Lab "