KORANRIAU.co,PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau
mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Riau pada Juli 2026
sebesar 3,82 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,19.
Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau justru mengalami deflasi
sebesar 0,08 persen.
Data tersebut
disampaikan Ketua Tim Statistik Distribusi dan Jasa BPS Provinsi Riau, Dr Fitri
Hariyanti SST MM, didampingi Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik
(Diskominfotik) Provinsi Riau, Drs H Supriyadi MSi, saat merilis Berita Resmi
Statistik (BRS) BPS Riau, Senin (3/8/2026).
Fitri menjelaskan,
inflasi tahunan di Riau masih didorong oleh kenaikan harga pada sebagian besar
kelompok pengeluaran. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Pekanbaru sebesar 3,97
persen dengan IHK 112,76, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten
Kampar sebesar 3,51 persen dengan IHK 113,83.
"Pada Juli 2026,
Provinsi Riau mengalami inflasi year on year sebesar 3,82 persen. Namun secara
month to month terjadi deflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan secara year
to date inflasi mencapai 0,88 persen," jelas Fitri.
Ia mengatakan,
terdapat sepuluh kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tahunan. Kenaikan
tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,16
persen, disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5 persen,
pendidikan 4,45 persen, transportasi 4,19 persen.
Kemudian, kesehatan
3,87 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,06 persen, rekreasi,
olahraga dan budaya 2,19 persen. Lalu, informasi, komunikasi dan jasa keuangan
1,61 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,06 persen,
serta pakaian dan alas kaki 0,25 persen.
Sementara itu, hanya
satu kelompok yang mengalami deflasi secara tahunan, yakni perlengkapan,
peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.
Menurut Fitri,
komoditas yang paling dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas
perhiasan, cabai merah, bensin, biaya akademi atau perguruan tinggi. Kemudian
ada pula biaya pemeliharaan kendaraan, minyak goreng, ikan patin, ikan serai,
angkutan udara, nasi dengan lauk, rokok kretek mesin, cabai rawit, daging ayam
ras, tarif rumah sakit, beras, ikan lele, ikan nila, serta jeruk.
"Emas perhiasan
menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, diikuti cabai merah, bensin,
biaya pendidikan tinggi, hingga tarif transportasi udara," ungkapnya.
Di sisi lain, deflasi
bulanan Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas
pangan dan transportasi. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap
deflasi antara lain bawang merah, cabai merah, emas perhiasan, angkutan udara,
mobil, telur ayam ras, jeruk, minyak goreng, ikan serai, tempe, dan beras.
Kelompok makanan,
minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar secara tahunan dengan
andil 1,63 persen. Inflasi pada kelompok ini mencapai 5 persen, terutama dipicu
kenaikan harga cabai merah, minyak goreng, ikan patin, ikan serai, rokok kretek
mesin, cabai rawit, ikan tongkol, daging ayam ras, tomat, serta beras.
Selain itu, kelompok
perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi sebesar 0,77 persen
dengan inflasi mencapai 10,16 persen, yang sebagian besar dipengaruhi kenaikan
harga emas perhiasan. Sementara kelompok transportasi memberikan andil 0,53
persen akibat naiknya harga bensin, biaya servis kendaraan, angkutan udara,
mobil, dan sepeda motor.
Kelompok penyediaan
makanan dan minuman/restoran juga mencatat inflasi 3,06 persen dengan
kontribusi 0,31 persen terhadap inflasi tahunan. Kenaikan harga nasi dengan
lauk, bakso siap santap, ayam goreng, hingga berbagai makanan siap saji menjadi
pendorong utama pada kelompok ini.
Fitri menambahkan,
secara umum kondisi inflasi di Riau masih dipengaruhi dinamika harga sejumlah
komoditas pangan, emas perhiasan, transportasi, dan pendidikan, meskipun pada
Juli terjadi koreksi harga beberapa komoditas sehingga menghasilkan deflasi
bulanan.
Sementara itu, Kepala
Diskominfotik Provinsi Riau, Drs H Supriyadi MSi, mengatakan bahwa data
statistik yang dirilis BPS menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam
menyusun kebijakan pengendalian inflasi.
"Data yang
disampaikan BPS menjadi dasar yang sangat penting dalam perumusan kebijakan
pemerintah daerah, khususnya dalam menjaga stabilitas harga dan daya beli
masyarakat. Sinergi antara pemerintah daerah dan BPS akan terus diperkuat agar
pengendalian inflasi di Riau semakin efektif," ujar Supriyadi. mcr