KORANRIAU.co,PEKANBARU- Tim pencari bakat PB Djarum, Yuni Kartika menegaskan, jika pihaknya bukan mencari banyaknya jumlah peserta audisi. Akan tetapi, Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru, Riau kali ini, lebih kepada menemukan bibit memiliki potensial dan kualitas.
Mantan pebulutangkis nasional itu menilai ,Audisi Umum PB Djarum 2026 di Pekanbaru, Riau yang
diselenggarakan mulai tanggal 8-12 Juli 2026 kali ini memiliki potensi besar
untuk berkembang dan menjadi bagian dari regenerasi bulutangkis
Indonesia.
Menurut Yuni, tujuan utama audisi bukanlah mencari peserta
dalam jumlah banyak, melainkan menemukan talenta yang memiliki kemampuan dasar,
karakter, dan potensi untuk dibina lebih lanjut di level yang lebih tinggi.
"Kalau bicara Pekanbaru, saya juga ikut saat audisi
tahun 2018. Memang secara jumlah lebih banyak waktu itu, tetapi yang kami cari
bukan jumlah, melainkan potensi. Saya melihat meskipun pesertanya tidak
sebanyak dulu, mereka memiliki kualitas yang menjanjikan. Itu yang membuat kami
cukup gembira,"kata Yuni di Angkas
Badminton Centre Pekanbaru, Sabtu (11/7/2026).
Ia mengatakan, perkembangan pembinaan bulutangkis di luar
Pulau Jawa menjadi salah satu hal yang paling menggembirakan dalam audisi kali
ini. Menurutnya, sejumlah klub daerah kini telah memiliki pola pembinaan yang
semakin baik sehingga mampu melahirkan atlet dengan teknik dasar yang sesuai
standar.
"Kami juga
melihat potensinya bukan hanya dari klub-klub di Jawa. Klub-klub di luar Jawa
juga menjadi perhatian kami. Itu menunjukkan ekosistem bulutangkis di daerah
tetap berjalan dengan baik. Ini tentu menjadi hal yang sangat positif untuk
masa depan bulutangkis Indonesia," katanya.
Tim pencari bakat PB Djarum memiliki sejumlah indikator
dalam menilai seorang atlet muda. Tidak hanya kemampuan memukul kok, tetapi
juga efektivitas pergerakan, kualitas pukulan, hingga karakter saat bertanding.
"Kami melihat pergerakan
kakinya, apakah efisien atau tidak. Lalu feeling pukulannya, karena ada anak
yang memang punya bakat alami. Selain itu kami juga melihat karakter bermain,
bagaimana dia berpikir di lapangan, menyelesaikan masalah sendiri, dan tetap
fokus saat menghadapi pertandingan. Hal-hal seperti itu menjadi nilai penting
dalam proses seleksi," jelasnya. Di sisi lain,
Dia mengingatkan bahwa menjadi atlet berprestasi membutuhkan
proses panjang yang harus dijalani dengan disiplin dan konsisten. Karena itu,
sejak awal tim pelatih selalu memberikan gambaran mengenai tantangan yang akan
dihadapi apabila lolos menjadi atlet PB Djarum.
"Kami selalu sampaikan kepada anak-anak bahwa
perjalanan ini tidak mudah. Mereka harus siap menjalani latihan setiap hari,
bersaing secara sehat, dan terus meningkatkan kualitas. Prestasi tidak datang
secara instan, tetapi melalui proses yang panjang," ungkapnya.
Masih Yuni, dukungan orang tua juga menjadi faktor penting
dalam membentuk atlet berprestasi. Orang tua diharapkan memahami karakter anak
masing-masing sehingga mampu memberikan motivasi yang tepat selama proses
pembinaan.
"Setiap anak
berbeda. Ada yang perlu terus disemangati, ada juga yang justru berkembang
ketika diberi kesempatan berpikir sendiri. Karena itu orang tua harus
benar-benar mengenal karakter anak agar bisa mendampingi mereka dengan cara
yang tepat," katanya.
Dia juga memberikan pesan kepada para pelatih di daerah agar
terus memperkuat fondasi teknik dasar atlet sejak usia dini. Baginya, pembinaan
yang benar akan menjadi bekal penting ketika atlet melangkah ke jenjang yang
lebih tinggi.
"Yang paling penting adalah teknik dasar yang benar dan
latihan fisik yang sesuai usia. Kalau fondasinya sudah kuat, ke depannya atlet
akan lebih mudah berkembang. Saya melihat banyak klub di luar Jawa sudah
mengarah ke sana dan itu merupakan perkembangan yang sangat baik," sebutnya.
Menghadapi
perkembangan bulutangkis modern, Yuni menilai pembinaan atlet juga harus
mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. PB Djarum pun mulai mengembangkan
pendekatan sport science untuk membuat latihan lebih efektif sekaligus
mengurangi risiko cedera. nor

No Comment to " Yuni Kartika: Yang Kami Cari Bukan Jumlah, Tetapi Potensi dan Kualitas "