KORANRIAU.co- Video pendiri SMRC Saiful Mujani mengatakan jatuhkan Presiden Prabowo Subianto tengah ramai di media sosial (medsos) karena dianggap makar. Waketum Partai Gelora sekaligus Wamen PKP Fahri Hamzah menilai ucapan Saiful Mujani berbahaya karena dapat menjadi inkonstitusional.
Potongan video pernyataan Saiful Mujani soal kepemimpinan
Prabowo diketahui tengah viral di medsos. Dalam video yang beredar, Saiful
Mujani berbicara soal menjatuhkan Prabowo untuk menyelamatkan bangsa.
"Saya alternatifnya bukan, bukan pada
prosedur yang formal impeachment seperti itu, itu tidak akan jalan. Yang jalan
hanya ini, bisa nggak kita mengkonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo,
hanya itu. Kalau nasehati Prabowo nggak bisa juga, bisanya hanya dijatuhkan.
Itulah menyelamatkan, bukan menyelamatkan Prabowo tapi menyelamatkan diri kita
dan bangsa ini," kata Saiful Mujani dalam video viral seperti dilihat,
Minggu (5/4).
Fahri Sebut Berbahaya
Ditemui di usai rapat terbatas dengan Prabowo di
kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (6/4/2026), Fahri Hamzah bicara
soal pernyataan Saiful Mujani. Fahri menyinggung soal tak memberikan izin
terhadap tindakan inkonstitusional.
"Jadi kita menyarankan agar kita bicara dalam
konsep demokrasi konstitusional. Jangan kasih izin dan ruang kepada tindakan
inkonstitusional. Sebab itu nanti berbahaya," sebut Fahri.
Menurut Fahri, jenis tindakan inkonstitusional
banyak wujudnya. Namun, Fahri menekankan kondisi negara dan dunia yang butuh
persatuan dan kesatuan.
"Kalau semua orang boleh mengizinkan
terjadinya tindakan inkonstitusional, ya negara kita lagi kayak begini, dunia
lagi kacau, kita lagi memerlukan kesepahaman dan kesepakatan, harusnya kita
bicara dalam wadah konstitusional," ucapnya.
Dalam sistem konstitusi, kata Fahri, Presiden
bukan satu-satunya pemegang kekuasan. Menurut Fahri, ada cabang kekuasaan lain
yang juga bisa ditagih sebagai bagian tanggung jawab kolektif negara kepada
masyarakat.
"Saya kira apa namanya, kawan-kawan itu
sepakat itulah. Apa lagi kalau yang aktivis, setengah mati loh kita membangun
demokrasi kita. Kalau kita mengizinkan kekacauan kembali kan nanti repot. Ya,
tolong introspeksi jugalah ya," sebut Fahri.
"Dunia lagi tidak mengizinkan kita untuk
macam-macam lah ya. Dunia lagi memerlukan kita untuk kompak bersatu. Apalagi
kalau kita bicara Pak Prabowo, kan tidak ada niatnya yang tidak baik. Semua ini
kan untuk masyarakat. Tapi kalau beliau bilang ada penghematan dan sebagainya,
ya itu kita adjust lah. Kan memang faktanya juga ada banyak kebocoran dan
keborosan di mana-mana. Dan itu saja yang kita perlu perbaiki. Kan baik semua
niat itu," imbuhnya.
Saiful Mujani Buka Suara
Saiful Mujani pun buka suara usai pernyataan
dirinya viral di media sosial. Saiful Mujani menyebut ungkapan tersebut
menyikapi pernyataan Prabowo yang ingin pengamat ditertibkan.
"Pernyataan saya di acara halalbihalal dengan
tema halalbihalal pengamat yang mau ditertibkan. Saya bicara pada bagian akhir,
penutup. Sebelumnya beberapa teman sudah bicara seperti Ubaidillah Badrun,
Doktor Sukidi, Romo Setyo, Ferry Amsari, Islah Bahrawi dan lain-lain. Semuanya
memberikan pandangan evaluatif terhadap kinerja presiden yang sudah bekerja
lebih dari satu tahun," kata Saiful Mujani dikonfirmasi.
"Secara khusus memberikan tekanan pada
ancaman terhadap aktivis dan pengamat pasca pernyataan prabowo yang akan
menertibkan pengamat sesuai dengan data intelegen yang dia punya sebagai
presiden," tambahnya.
Saiful Mujani mengatakan pernyataan dalam video
itu merupakan sikap politik sebagai warga negara, akademisi atau ahli ilmu
politik. Saiful Mujani mengatakan kebebasan berpendapat dilindungi oleh UUD
1945.
"Termasuk pernyataan sikap saya bahwa
Presiden Prabowo harus diturunkan sebagai jawaban atas kondisi politik
kebangsaan akumulatif di bawah kepemimpinannya," kata Mujani.
Saiful Mujani menekankan tak ada kata makar dalam
pernyataan yang disampaikan. Saiful Mujani menilai bisa saja pihak yang
menuding makar tersebut salah paham.
"Tidak ada kata 'makar' dalam pernyataan
sikap saya, yang ada adalah ekspresi kebebasan berbicara, berpendapat dan
berkumpul saya dengan teman-teman yang hadir. Semua itu adalah hak politik kami
sebagai warga negara, dijamin UUD. Kata makar digunakan oleh staf KSP yang
diposting di medsos. Mungkin salah paham atau tidak mengerti hak-hak politik
warga negara. Makar itu bahasa hukum," katanya.
Saiful Mujani lantas menyinggung arti kata makar
dalam KUHP yang baru. "Lihat KUHP yang baru apa yang dimaksud dengan
makar. Berpendapat, bersikap, dan berkumpul termasuk terkait dengan ide
menurunkan presiden adalah hak politik warga yang dijamin UUD. Menurut KUHP baru
makar itu tindakan fisik menyerang atau mencederai Presiden, separatisme, dan
lain-lain," ucap Saiful Mujani.
"Yang saya sampaikan terlalu jauh dari
syarat-syarat makar. Saya pun cukup paham mana yang boleh dan mana yang tidak
boleh dilakukan dalam konteks sebagai warga negara," sambungnya.
Saiful Mujani membantah pernyataannya disamakan
dengan makar. Menurutnya, apa yang disampaikan sebagai partisipasi politik.
Saiful Mujani mencontohkan peristiwa Reformasi 1998.
"Demokrasi bukan hanya pemilu, kita boleh
menurunkan Prabowo sebelum Pemilu 2029. Partisipasi ini bukan makar, seperti
kita menurunkan Soeharto dulu. Demo yang membuat Soeharto terdesak dan kemudian
mundur, para demonstran tidak melakukan makar. Mereka mrnyelematkan bangsa dan
negara," tuturnya.
Saiful Mujani menyebut tindakan makar itu sulit
dilakukan. Menurutnya, Presiden saat ini juga tak mudah dimakzulkan lantaran
MPR hingga DPR dianggap terhubung dengan kepemimpinan Prabowo.
"Bagi kami Prabowo juga bisa diimpeach,
dimazulkan. Menurut keyakinan saya syarat-syarat pemakzulan sudah cukup. Tapi,
impeachment sangat tergantung pada DPR, MK, dan MPR. Tapi, secara objektif
mereka tak bisa diharapkan untuk melakukan itu, bagian dari Presiden
semua," ucapnya.
"Melakukan makar itu bukan hanya dilarang
tapi susah dilakukan. Perlu resources besar untuk itu seperti gerakan PRRI di
bawah kepemimpinan Sumitro Djoyohadikusumo, bapaknya Prabowo, dulu,"
imbuhnya.
detik

No Comment to " Fahri Hamzah Kritik Ucapan Saiful Mujani 'Jatuhkan Prabowo': Introspeksi Lah "