• Orang Riau Jadi Cawapres, ini Pandangan Pengamat Politik Unilak

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Jumat, 10 Agustus 2018
    A- A+
    Sandiaga Salahuddin Uno, Lahir di Pekanbaru pada 1969, dipilih Prabowo Subianto untuk mendampinginya sebagai calon wakil presiden menghadapi Pemilihan Presiden 2019.



    KoranRiau.co, Pekanbaru --Masyarakat Indonesia telah mengetahui pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden untuk pemilihan presiden tahun 2019. Joko Widodo menggandeng Ketua MUI KH Maruf Amin sebagai cawapres yang diumumkan pada Kamis petang (9/8), dan malam harinya giliran Prabowo mengumumkan cawapres untuk maju di 2019 yaitu Sandiaga Salahuddin Uno.

    Sandiaga Uno yang lahir di Rumbai, Pekanbaru, 49 tahun lalu ini menjadi orang Riau pertama yang maju sebagai cawapres Indonesia.

    Dalam pandangan pengamat politik dari Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, Alexsander Yandra SIP MSi, publik tidak terlalu kaget dengan pilihan Prabowo ini. karena Sandiaga Uno selain kader Partai Gerindra juga orang dekat Prabowo. Sandi juga merepresentasikan pemilih milenial di Indonesia yang hampir 50 juta pemilih.



    Alexsander Yandra

    "Isu yang berkembang antara Prabowo dan Sandiaga adalah representasi dari gabungan nasionalis dan milineal religius," kata dia, Jumat pagi.

    Ketika ditanya untuk di Riau apakah mampu mendongkrak perolehan suara, Alexsander melihat bahwa ini tergantung kekuatan elektoral Sandiaga Uno di Riau dan Sumatera. Soliditas partai, kader dan simpatisan di daerah juga sangat berperan.

    "Ini juga tergantung kepada visi yang diusung, taktik, dan logistik di antara partai pengusul serta kemampuan memengaruhi pemilih akar rumput," ujar Alex.

    Pengaruh besar untuk mendongkrak suara, menurut dia, ada pada nama besar ustad Abdul Somad. "Jika bicara Riau maka ada nama ulama besar UAS yang digadang-gadangkan akan menjadi cawapres Prabowo sebelumnya, namun UAS menolak dan fokus pada profesinya. Jika komunkasi politik ini terbangun maka nanti bisa menjadi bahagian penting dalam kampanye, apalagi dukungan sesama orang Riau, dan UAS punya pengaruh besar terhadap umat Islam," terangnya.

    Alexsander menjelaskan, jika berkaca pada pilpres tahun 2014, Prabowo kala itu menang di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar, sementara Jokowi menang di 10 kabupaten kota lainnya. Dan untuk jumlah pemilih, pemilih di wilayah pesisir lebih sedikit dibanding daratan jika bicara demografi politik.

    "(Namun) Politk itu dinamis. Jika Prabowo 2014 menang di Riau belum tentu juga menang 2019. Atau sebaliknya, Prabowo bisa meraup suara dua kali lipat dari sebelumnya karena pengaruh Sandi yang orang Riau serta kemampuan dalam merawat pemilih," ulasnya.

    Disinggung mengenai pasangan Jokowi, KH Ma'ruf Amin, Alexsander yang lulusan Pascasarjana Universitas Andalas, Padang mengatakan preferensi pilihan politik Jokowi memilih Ketua MUI yang notabene ulama adalah bentuk gabungan nasionalis dan religius yang merepresentasikan spirit kebangsaaan dan keumatan. Karena sosok kyai yang besar pengaruhnya terhadap santri. Apalagi Ma'ruf Amin profesional dan cucu dari salah satu imam Masjidil Haram.

    "Dalam perspektif politik pilihan terhadap kyai Ma'ruf karena orang senior di PBNU yang nanti tidak akan menggangu posisi Muhaimin Iskandar di muktamar PKB dan PDIP pada pemilu 2024," tutup Alexsander. *KRC1





    sumber foto: inclovermag.com
  • No Comment to " Orang Riau Jadi Cawapres, ini Pandangan Pengamat Politik Unilak "