KORANRIAU.co- Lembaga bantuan hukum dan hak asasi manusia Israel, Adalah, mendesak dibukanya penyelidikan kriminal atas kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang jurnalis perempuan asal Jerman.
Seperti dikutip Anadolu Agency, aksi kejam dan
mengerikan tersebut diduga dilakukan oleh petugas di dalam penjara Israel.
Korban merupakan seorang jurnalis dan aktivis
Eropa yang ditangkap otoritas Israel saat berpartisipasi dalam misi kemanusiaan
lintas laut, Global Sumud Flotilla, menuju Jalur Gaza pada tahun 2025.
Melalui pernyataan resminya pada Minggu (7/6),
pihak Adalah mengonfirmasi telah melayangkan gugatan dan laporan resmi kepada
otoritas hukum Israel. Mereka menuntut pengusutan tuntas atas kesaksian berat
yang diberikan oleh kliennya tersebut.
Berdasarkan dokumen kesaksian korban yang dirilis
Adalah, pelecehan ekstrem tersebut terjadi di Penjara Givon yang terletak di
Ramla, Israel Tengah. Sejumlah sipir perempuan Israel memaksa jurnalis Jerman
tersebut untuk melucuti seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
Saat proses pelepasan baju paksa tersebut
berlangsung, sejumlah sipir pria sengaja menonton dari balik tirai. Salah satu
sipir perempuan kemudian melakukan kekerasan seksual secara fisik terhadap
korban, yang diiringi oleh gelak tawa ejekan dari para sipir pria yang
menyaksikannya.
Tak hanya di Penjara Givon, Adalah mengungkapkan
bahwa korban dan para aktivis kemanusiaan lainnya juga mengalami serangkaian
kekerasan fisik dan verbal yang masif selama proses pemindahan dari pelabuhan
menuju Penjara Ketziot di Gurun Negev.
"Klien kami menjadi sasaran kekerasan fisik
dan verbal dari aparat keamanan serta petugas layanan penjara. Tindakan
tersebut meliputi pengikatan tangan dalam jangka waktu yang sangat lama
menggunakan borgol plastik, penutupan mata secara paksa, intimidasi berupa
teriakan, serangan fisik, hingga ancaman pembunuhan," tulis pernyataan
resmi Adalah.
Pelayaran Global Sumud Flotilla pada tahun 2025
merupakan salah satu dari sekian banyak upaya internasional yang mencoba
menembus blokade ketat Israel untuk mengirimkan bantuan logistik, makanan, dan
obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza.
Israel sendiri telah menerapkan blokade udara,
laut, dan darat terhadap Jalur Gaza, yang dihuni oleh hampir 2,4 juta jiwa,
selama hampir 18 tahun terakhir.
Pengepungan tersebut kian mencekik sejak Maret
lalu ketika Negeri Zionis ini menutup seluruh gerbang perbatasan dan memblokir
total pasokan logistik penting, yang memicu bencana kelaparan ekstrem di
wilayah kantong tersebut.
Gelombang konflik besar di Gaza yang pecah sejak
Oktober 2023 hingga kini dilaporkan telah menewaskan hampir 73.000 warga
Palestina, melukai lebih dari 172.000 orang, serta menghancurkan sekitar 90
persen seluruh infrastruktur vital di wilayah tersebut.
Kasus yang menimpa jurnalis Jerman ini semakin
memperpanjang daftar dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional yang
dilakukan oleh otoritas sipil maupun militer Israel.
cnnindonesia

No Comment to " Jurnalis Jerman Dilecehkan Sipir dan Jadi Tontonan di Penjara Israel "