• Islam Android

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Minggu, 13 Oktober 2019
    A- A+

    KORANRIAU.co-Islam dalam hidup kita, pada batas-batas tertentu, tak ubahnya seperti smartphone di tangan kita. Betapa banyak fitur canggih tersedia di dalamnya, tapi begitu sedikit yang secara sadar kita gunakan dan manfaatkan. Bahkan, sebagian besar fitur-fitur tersebut belum kita ketahui apa manfaatnya dan bagaimana menggunakannya.

    Ketika membeli smartphone, kita berusaha mendapatkan tipe dengan spesifikasi terbaik dan fitur terlengkap namun dengan harga paling terjangkau. Para penjaga toko handphone akan menjelaskan itu semua dengan canggih, seakan merekalah yang membuat dan merakitnya. Di hadapan mereka, kita akan merasa betapa sempurna handphone yang sedang kita tawar, dan betapa rugi dan menyesal kita kalau tidak membelinya.

    Tapi, setelah membelinya dan membawanya pulang, mulailah smartphone yang canggih tadi menjadi biasa. Sehari-hari, smartphone itu berangsur menjadi biasa mengikuti irama hidup kita yang juga biasa-biasa saja. Walaupun sesak dengan fitur canggih, sehari-hari ia lebih banyak kita gunakan untuk hal-hal standar: menulis pesan, membuat foto dan video, melakukan voice atau video call, merekam, memasang alarm, dan fungsi-fungsi sederhana lainnya yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan smartphone paling sederhana sekalipun.

    Smartphone adalah barang yang terasa paling berharga, namun paling mubazir dalam hidup kita. Ketika ia hilang atau tertinggal, atau baterainya habis, atau paketannya habis, atau wi-fi-nya putus, kita merasa seakan-akan dua pertiga hidup kita berhenti. Namun, ketika aktif kembali, ternyata biasa-biasa saja. Pesan superpenting atau status dan posting-an super-mendesak yang kita bayangkan masuk saat smartphone kita tidak aktif ternyata tidak ada. Atau mungkin ada, tapi tidak sepenting dan semendesak yang kita bayangkan.

    Kita para pengguna smartphone tak ubahnya seperti sopir angkot yang duduk di kokpit atau ruang pilot pesawat. Ratusan tombol dengan ragam fungsinya terpampang di hadapan kita, tapi mungkin hanya kemudinya yang kita pahami dan kemudian kita sentuh.

    Begitu pulalah, lebih kurang, gambaran Islam dalam hidup kita. Sebagai agama yang sempurna, Islam menyediakan segala yang kita butuhkan untuk kebaikan kita, baik di dunia saat ini maupun kelak di akhirat nanti. Islam mengatur dan memberikan tuntunan bagaimana kita berinteraksi dengan Tuhan kita, agar hidup kita sesuai tuntunan-Nya dan karenanya mendapatkan rida-Nya. Islam juga mengatur hubungan kita dengan sesama manusia, agar dunia kita harmonis dan menjadi bakal akhirat kita yang manis.

    Namun demikian, kesempurnaan ajaran Islam terasa menjadi sederhana oleh ketidaktahuan atau ketidakmampuan kita dalam memahaminya dan memanfaatkannya secara maksimal dalam hidup kita.

    Kebanggaan kita sebagai muslim, dalam banyak hal, bisa dibilang sebagai kebanggaan pasif. Kita bangga memeluk Islam karena kita tahu bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, yang diridai oleh Tuhan, dan yang akan mengantarkan kita menuju surga. Tapi, sekali lagi, sering kali ini hanya kebanggaan pasif. Karena kita tidak tahu bagaimana bentuk riil dan nyata dari ajaran Islam yang kita yakini selamat dan menyelamatkan itu. Ketidaktahuan ini membuat Islam kita sering berhenti pada tingkat keyakinan saja, tapi tidak benar-benar tahu apa dan bagaimana detail ajaran Islam yang kita yakini itu.

    Atau, bisa jadi kebanggaan pasif itu bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena ketidakmampuan kita mentransfer pengetahuan agama kita menjadi tindak laku dan amal nyata dalam kehidupan kita. Dengan kata lain, keislaman kita berhenti pada level lisan dan hati. Islam kita lebih banyak berupa apa yang kita yakini dan kita ucapkan, belum sepenuhnya berupa apa yang kita amalkan.

    Karena kedua sebab tersebut, Islam kita menjadi begitu sederhana dan standar. Hanya berupa pengguguran kewajiban. Atau hanya berupa ritual rutin yang sering kali tidak memberikan efek psikologis dan sosial yang berarti. Islam kita sering kali hanya salat lima waktu lalu selesai. Atau puasa Ramadan lalu selesai. Atau membaca Alquran lalu selesai. Kita tidak tahu apa yang lebih dalam dan lebih jauh dari itu. Islam yang kita yakini sempurna itu akhirnya menjadi seperti smartphone canggih yang hanya dipakai bikin foto, video, menelepon, dan mengirim pesan.

    Salah satu ajaran Islam yang begitu sempurna, namun sering tidak dimaksimalkan oleh kita orang Islam adalah salat. Dalam Alquran sendiri disebutkan bahwa ada di antara umat Islam yang menyia-nyiakan salat yaitu apa yang dikenal dengan istilah "adha'us shalah" (Surah Maryam: 59). Kata menyia-nyiakan salat menunjukkan bahwa salat adalah ibadah yang begitu berharga tapi tidak dimanfaatkan atau tidak dimaksimalkan sebagaimana seharusnya. Salat disyariatkan untuk banyak sekali kebaikan, tapi tidak dimanfaatkan.

    Salah satu hikmah agung di balik ibadah salat adalah sebagai penghalang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al Ankabut: 45. Tapi, tentu saja ini bukan sesuatu yang otomatis. Tidak semua orang yang salat otomatis atau dengan sendirinya akan terjauhkan dari semua hal keji dan mungkar. Buktinya, dalam kehidupan nyata, para pelaku kemungkaran juga umumnya adalah mereka yang menunaikan salat. Ini berarti, salat belum difungsikan sebagai penghalang kemungkaran. Orang yang salat belum sepenuhnya sadar bahwa ketika menunaikan salat pada hakikatnya ia sudah berikrar untuk tidak melakukan segala bentuk kekejian dan kemungkaran.

    Hikmah lain dari ajaran salat adalah sebagai sarana formal untuk mengingat Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Thaha: 14. Mengingat Allah atau zikir itu adalah ibadah tersendiri yang sangat agung. Dan salat disediakan sebagai sarana untuk ibadah agung ini. Tapi, tidak jarang orang yang menunaikan salat tidak memanfaatkan ini. Jadilah salat hanya sebatas ritual fisik semata yang tidak menggiring kita berzikir kepada Allah. Bahkan, ketika salat kita sering mengingat hal-hal lain di luar salat yang sebelumnya tidak dipikirkan. Sampai ada sindiran, kalau mau mengingat apa yang terlupa, salatlah, nanti akan ingat.

    Hikmah ibadah salat juga pada setiap gerakannya. Sujud, misalnya, ditegaskan oleh Rasulullah sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Allah. Kita disuruh untuk memanfaatkan kedekatan kita dengan Allah tersebut dengan sebanyak mungkin memanjatkan doa kepada-Nya selama bersujud. Tapi, lagi-lagi, banyak di antara kita yang tidak memanfaatkan fitur agung ibadah salat ini. Alih-alih memperbanyak doa, sujud kita umumnya sujud kilat. Jidat kita menyentuh sajadah ibarat tangan menyentuh benda panas. Sekan-akan sudah ditarik sebelum benar-benar menyentuhnya. Rasulullah sendiri menggambarkan sujud seperti ini dengan gerakan kepala burung gagak yang sedang mematuk makanannya.

    Sujud juga merupakan sebuah terapi medis yang luar biasa. Ketika sujud, posisi kepala berada lebih rendah dari jantung. Efeknya, aliran darah ke otak akan lebih lancar dan mengisi banyak space di dalamnya. Bahkan, sampai ke space yang menurut para ahli tidak akan terjangkau aliran darah kecuali pada saat sujud. Dengan proses seperti ini, sujud dapat menghindarkan kita dari ragam penyakit yang disebabkan oleh kurang atau terhambatnya suplai darah ke otak. Semakin lama kita sujud semakin banyak manfaat medisnya buat kita. Tapi, dengan sujud kita yang umumnya sangat singkat, manfaat medis dari sujud ini pun kita sia-siakan.

    Keagungan ibadah salat juga ada pada ritual atau amalan sebelum dan sesudahnya. Sebelum salat, tiap pasang langkah kita menuju masjid merupakan momen pengampunan dosa dan peningkatan derajat buat kita. Artinya, semakin banyak pasang langkah yang kita ayunkan, semakin banyak dosa yang terampuni. Juga semakin meninggi derajat kita di sisi Tuhan. Tapi, apakah momentum jalan menuju salat berjamaah ke mesjid ini sudah kita maksimalkan? Di zaman ini, hampir tidak ada orang yang tidak mendengar azan, berkat teknologi pengeras suara. Andai semua yang mendengar azan melangkah ke masjid, pastilah masjid-masjid penuh sesak.

    Momen selepas salat juga sangat berharga. Rasulullah menegaskan bahwa kalau kita tetap duduk dan tidak beranjak usai salam, lalu membaca doa-doa yang disyariatkan, kita akan termasuk orang yang dimuliakan dan diampuni dosanya. Momen usai salat itu sendiri adalah salah satu waktu terkabulnya doa. Tapi, ini pun sangat sering kita lewatkan. Sama seperti sujud kita, duduk kita usai salat juga biasanya sangat singkat. Salam, istighfar tiga kali, sekelumit doa, lalu cabut. Bahkan kadang-kadang hanya "salat" saja, atau salam langsung cabut. Betapa tak betahnya kita di momen berharga tersebut. Sampai-sampai duduk kita seperti duduk di kursi panas.

    Ini baru tentang salat, belum ibadah-ibadah lain yang masing-masing juga menyimpan banyak ajaran-ajaran agung. Hanya secuil tentang ajaran salat saja sudah menunjukkan betapa banyak ajaran agama ini yang tidak kita manfaatkan. Saya menggunakan frasa "tidak kita manfaatkan" bukan "tidak kita lakukan". Karena sesungguhnya semua itu demi kebaikan kita sendiri. Ketika itu tidak kita manfaatkan, menurut saya, inilah yang dimaksud dengan "menyia-nyiakan salat." Ini jugalah yang saya maksud dengan "Islam Android." Islam yang penuh dengan "fitur-fitur luhur" dan "aplikasi-aplikasi agung," namun tidak kita manfaatkan secara maksimal.Nasaruddin/detikcom/nor


    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Islam Android "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com v1IOyZ.jpg v1IbZG.jpg