KORANRIAU.co- Perang saudara di Sudan menunjukkan eskalasi yang semakin brutal karena banyak korban tewas berjatuhan.
Al Jazeera melaporkan bahwa setiap 27 menit satu
orang tewas akibat konflik berkepanjangan.
Angka tersebut merupakan rata-rata yang dihitung
sepanjang 1.096 hari konflik berlangsung sejak pertama kali pecah.
"Setiap 27 menit, satu orang dilaporkan tewas
dalam perang saudara di Sudan," demikian bunyi pertanyaan dalam sebuah
video yang dilaporkan Al Jazeera.
"Lebih dari 58.000 kematian telah tercatat,
dengan lebih dari 16.000 di antaranya terjadi akibat serangan yang secara
langsung menyasar warga sipil," tambahnya.
Konflik ini bermula tiga tahun lalu ketika dua kekuatan bersenjata, yakni
Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RAF), terlibat dalam
pertempuran yang kemudian memecah dan menghancurkan negara itu.
Sejak saat itu, jumlah korban sipil terus
meningkat setiap tahunnya. Dalam satu hari, rata-rata terjadi lima serangan
terpisah yang menargetkan warga sipil di berbagai wilayah Sudan.
"Serangan udara atau drone dilaporkan terjadi
setiap sembilan jam, sementara kasus penculikan muncul rata-rata setiap 32
jam," demikian pernyataan itu.
"Data konflik mencatat lebih dari 5.500
insiden yang secara khusus menargetkan warga sipil sejak April 2023."
RAF dilaporkan bertanggung jawab atas sekitar dua
pertiga dari total serangan itu, dengan hampir 12.000 korban jiwa.
Sementara itu, SAF memang melakukan lebih sedikit
serangan, namun jumlah korban yang ditimbulkan dalam setiap serangan cenderung
lebih besar.
Serangan yang dilakukan umumnya berupa serangan
udara dan bom barel, dengan kontribusi hampir seperempat dari total kematian
warga sipil.
"Tingkat kekerasan juga terus meningkat dari
tahun ke tahun. Pada tahun pertama, rata-rata tiga warga sipil tewas setiap
hari. Angka itu melonjak menjadi 20 pada tahun kedua, dan lebih dari 30 per
hari pada tahun ketiga."
Namun, angka-angka itu hanya mencerminkan tingkat
kekerasan, dan belum menggambarkan dampak yang dialami oleh para penyintas
konflik.
Pada 15 April 2023, RSF terlibat perang dengan SAF
di ibu kota Khartoum. Kedua belah pihak saling baku tembak hingga akhirnya ibu
kota diduduki RSF.
Konflik RSF dan SAF sendiri terjadi setelah
keduanya bekerja sama menggulingkan pemerintahan Abdalla Hamdok pada 2021.
Setelah penggulingan itu, SAF meminta RSF
terintegrasi sepenuhnya ke dalam jajaran dan struktur komando militer.
Namun, RSF menolak karena ingin menjadi pemimpin.
Kedua sekutu itu pun berperang untuk memperebutkan kekuasaan hingga saat ini.
cnnindonesia

No Comment to " Perang Saudara di Sudan Semakin Brutal, 1 Korban Tewas Setiap 27 Menit "