KORANRIAU.co,PEKANBARU- Riau bukan provinsi biasa. Migas termasuk terbesar di Indonesia pernah lahir dari perut bumi Riau. Sawit Riau menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Kelapa, hutan tanaman industri, hingga pabrik kertas raksasa berdiri di sini terbesar juga di indonesia, belum batubara dan emas nya Letaknya strategis di bibir Selat Malaka, jalur perdagangan tersibuk dunia. Luas wilayah terbesar di Sumatra, letak di tengah pulau sumatra, penduduk lebih dari 7 juta jiwa.
Namun ironi terjadi: APBD Riau 2026 hanya sekitar Rp8,3 triliun. Angka yang
terasa janggal, bahkan memalukan, jika disandingkan dengan kekayaan alam dan
posisi strategis yang dimiliki.
Masalah Riau bukan kekurangan sumber daya, melainkan kehilangan kedaulatan
atas sumber daya itu sendiri. Migas dikelola pusat, sawit dikuasai korporasi
besar, hutan dipenuhi konsesi, sementara Riau hanya menerima remah-remah dalam
bentuk Dana Bagi Hasil yang terus menyusut. Kekayaan diangkut keluar, nilai
tambah dinikmati daerah lain, pajak masuk kas pusat. Riau kebagian dampak:
jalan rusak, banjir, karhutla, konflik lahan, dan kemiskinan struktural.
Lebih ironis lagi, tidak ada keberanian politik untuk menggugat
ketidakadilan ini. Elit daerah sibuk mengelola kekuasaan jangka pendek, bukan
memperjuangkan kedaulatan fiskal jangka panjang. Bandingkan dengan Aceh, yang
memiliki dana otsus, Papua dengan keistimewaan fiskal, atau Kalimantan Timur
yang mendapat limpahan anggaran karena IKN. Riau? Kaya, tapi tak punya posisi
tawar.
Ketiadaan Perda RTRW yang kuat memperparah keadaan. Tata ruang yang kabur
membuat tanah adat terpinggirkan, konflik agraria berlarut, dan negara kalah
dari korporasi. BUMD yang seharusnya menjadi lokomotif ekonomi justru lemah dan
tidak strategis. Hilirisasi industri hanya jadi jargon; Riau tetap penjual bahan
mentah.
Inilah wajah kutukan sumber daya alam: kaya di atas kertas, miskin dalam
kesejahteraan. Riau menjadi lumbung nasional, tapi rakyatnya tak pernah
benar-benar merasakan hasilnya.
Sudah waktunya Riau berhenti bangga pada statistik produksi dan mulai
bertanya: berapa yang benar-benar kembali ke rakyat? Tanpa keberanian
memperjuangkan keadilan fiskal, tanpa kepemimpinan yang berpihak pada
kedaulatan daerah, Riau akan terus menjadi raksasa yang lemah besar tubuhnya,
kecil kuasanya.
Dan sejarah akan mencatat: Riau tidak miskin, tapi dibuat miskin.
Oleh: Zulkadir, Pemerhati Sosial.

No Comment to " Riau Kaya Raya, APBD Seadanya, Ada yang Salah di Negeri Ini "