KORANRIAU.co- Presiden Amerika
Serikat (AS) Donald Trump terus-menerus menyerang ideologi Wali Kota terpilih
New York City (NYC) Zohran Mamdani sejak ia belum memenangkan pemilihan
umum (pemilu) 4 November lalu.
Trump mengecap Mamdani seorang komunis yang akan
menghancurkan New York City.
Label itu berulang kali dilontarkan Trump di
berbagai kesempatan. Ia terus menakut-nakuti warga New York bahwa masa depan
kota terbesar di AS itu bakal suram di bawah pimpinan Mamdani.
Apalagi, ditambah ancaman bahwa Trump bakal
menahan dan membatasi dana federal untuk New York City.
Serangan Trump ke Mamdani ini pada dasarnya
merupakan manifestasi rasa takut sang Presiden terhadap ideologi kader muda
Partai Demokrat tersebut.
Mamdani secara terbuka menyatakan dirinya sosialis demokrat yang membawa ide-ide
progresif seperti mematok pajak tinggi untuk si kaya, membekukan sewa,
menyediakan layanan bus gratis, hingga menaikkan upah minimum pekerja.
Trump telah mengakui bahwa ada "kekhawatiran" serius di kalangan pebisnis
terhadap kepemimpinan Mamdani di NYC. Trump sendiri merupakan seorang pebisnis.
Phillip Laffront, pendiri dana lindung nilai
Coatue Management, juga mengatakan kepada CNBC bahwa sejumlah investor
kaya kemungkinan besar berniat pergi dari NYC apabila Mamdani terpilih. Mereka
tak ingin ambil risiko di NYC.
"Beberapa orang pasti akan pergi," kata
Laffront.
Sosialis demokrat yang dianut Mamdani merupakan
ideologi di mana para pengikutnya secara luas mendukung pemerintah mengambil
kendali sektor-sektor ekonomi tertentu, seperti perawatan kesehatan, demi
keuntungan publik, bukan perusahaan swasta.
Mamdani merupakan anggota lama Partai Sosialis
Demokrat Amerika (DSA). DSA telah ada sejak tahun 1980-an dan mengeklaim
sebagai organisasi sosialis terbesar di AS.
Menurut DSA, mereka adalah kaum sosialis lantaran
menolak tatanan ekonomi internasional yang ditopang oleh hal-hal seperti
keuntungan pribadi, diskriminasi, dan kekerasan "demi mempertahankan
status quo".
DSA mendambakan tatanan sosial yang lebih adil dan
manusiawi, sesuai perencanaan demokratis dan mekanisme pasar.
Dilansir dari NPR, kaum sosialis demokrat sering
kali menjauhkan diri dari contoh-contoh historis sosialisme dan komunisme, yang
sebagian besar berkonotasi negatif di AS sejak era Perang Dingin.
Para pendukungnya juga mengatakan bahwa sosialisme
demokratik lebih luas dibandingkan "demokrasi sosial" yang seringkali
melibatkan negara sejahtera yang beroperasi di bawah kapitalisme.
Partai Komunis AS menyatakan meskipun pihaknya
memiliki beberapa nilai yang sama dengan kaum sosialis demokrat seperti
menentang perang dan ingin upah minimum tinggi, pihaknya percaya bahwa hal
tersebut hanya bisa terjadi melalui restrukturisasi masyarakat secara mendasar.
Sementara itu, banyak sosialis demokrat yang
menilai transformasi radikal tidak dapat terwujud dalam jangka pendek, sehingga
mereka menggunakan cara-cara seperti pengorganisasian, lobi, dan protes dengan
harapan dapat membuat perubahan dalam sistem yang ada, setidaknya untuk saat
ini.
cnnindonesia

No Comment to " Kenapa Trump Takut Sosialis Demokrat yang Dianut Zohran Mamdani? "