• Industri Makanan Mengeluh Bahan Baku Sulit Didapat Hingga Omzet Turun 50 Persen

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Sabtu, 11 April 2020
    A- A+

    KORANRIAU.co- Industri kecil dan menengah (IKM) sektor makanan mengeluh sulit mendapat pasokan bahan baku untuk dapat terus beroperasi selama pandemi Virus Corona. Tidak hanya kesulitan mendapat bahan baku, IKM sektor makanan juga dihadapkan pada harga bahan baku yang melonjak naik.

    "Data yang kami terima, yaitu pasokan bahan baku IKM makanan sulit didapat dan harganya saat ini terbilang meningkat," kata Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih IKMA di Jakarta, Sabtu (11/4).

    Beberapa harga bahan baku yang melonjak tersebut, di antaranya adalah harga kedelai dari Rp6.700 menjadi Rp 8.500, walau masih mudah ditemui di Pulau Jawa, namun di luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, kedelai mulai sulit dicari.

    "Kemudian menyusul harga buah-buahan yang ikut melonjak sebesar 20 persen dan bahan baku susu segar naik dari Rp6.500 per liter menjadi sampai Rp8.500 per liter," jelas Gati.

    Harga jahe merah turut naik hingga melebihi 100 persen, yakni dari Rp 35.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kilogram, bahkan mencapai Rp130.000 per kg di Kota Palu. Untuk harga bawang putih juga tak luput dari kenaikan harga, yakni dari Rp35.000 per kg menjadi Rp55.000 per kg.

    Kemudian gula pasir, harganya naik dari Rp12.500 per kilogram (kg) menjadi Rp18.000 per kg, bahkan di kota Palu mencapai Rp21.000 per kg, sedangkan harga jual gula rafinasi juga terkerek naik dari Rp9.000 menjadi Rp11.000. Sehingga Kemenperin terpaksa memberlakukan aturan pembatasan pembelian gula pasir maksimal 3 kilogram atau jika ingin membeli gula kemasan bulk besar maka hanya tersedia di distributor.

    Sedangkan Menurutnya IKM makanan mengalami penurunan omzet hingga 50 persen, bahkan terdapat IKM yang penjualannya menurun hingga 90 persen, menyebabkan mereka menjual secara obral stok yang ada agar tidak menumpuk di gudang dan mendapat pemasukan tambahan. Kondisi serupa dialami pasar ekspor akibat diberlakukannya karantina atau lockdown di sejumlah negara, seperti ekspor bawang goreng Monita dari Kabupaten Kuningan ke Arab Saudi.

    "Untuk itu, IKM nasional memaksimalkan penjualan secara daring agar tetap mendapatkan pemasukan bagi perusahaan, berharap agar akses pengiriman barang tetap dapat berjalan meskipun akan diberlakukan karantina wilayah," lanjut Gati.

    Dalam menghadapi kondisi sulit Gati berharap sejumlah bantuan pemerintah bagi pelaku usaha IKM makanan yang terdampak wabah corona seperti pemberian modal usaha, intervensi pemerintah pusat untuk menjamin ketersediaan bahan baku terutama gula pasir, penundaan pembayaran kredit perbankan, stabilisasi harga bahan baku agar kembali seperti semula, bantuan berupa hibah maupun pinjaman, penundaan pembayaran iuran PDAM dan PLN, keringanan pembayaran BPJS karena karyawan dirumahkan, penundaan pembayaran pajak, hingga subsidi biaya pengiriman untuk penjualan online terutama untuk wilayah Indonesia Bagian Timur.

    "Bahkan saat ini usaha IKM makanan melakukan penggiliran jam kerja untuk menjaga pshycal distancing, yang berarti akan terjadi pengurangan pendapatan pegawai karena upah dibayar secara harian," tandasnya.merdeka/nor
  • No Comment to " Industri Makanan Mengeluh Bahan Baku Sulit Didapat Hingga Omzet Turun 50 Persen "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0812 6670 0070 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com yLx3F0.jpg