• Anak Tangga Sabar: Belajar dari Kesabaran Ummu Salamah

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Jumat, 24 April 2020
    A- A+

    KORANRIAU.co-Siang itu masih siang penuh duka bagi Ummu Salamah. Suaminya, Abu Salamah, baru saja wafat setelah luka sisa perang Uhud tak kunjung sembuh. Luka itu memang tampak mengering di permukaan kulitnya, menyisakan harapan bahwa hidupnya akan baik-baik saja dalam waktu yang panjang.

    Selepas perang Uhud, Abu Salamah diperintahkan Rasulullah ﷺ untuk memimpin 150 orang yang menyusuri jalan tak dikenal orang pada malam hari. Di siang harinya, mereka bersembunyi agar jejak mereka tak dapat tercium oleh serombongan orang yang dipimpin dua kakak beradik, Tulaiha dan Salamah bin Khuwailid.

    Rombongan itu, dengan sangkaan yang memikat hati mereka bahwa kaum Rasulullah ﷺ telah lumpuh kekuatannya selepas perang Uhud, mengobarkan semangat untuk menaklukkan Madinah. Pada sebuah pagi buta, pasukan Abu Salamah menyergap mereka hingga tersudut dalam keadaan tak berdaya.

    Harta rampasan telah dibagi sesuai petuah Rasulullah ﷺ, lalu pasukan Abu Salamah kembali ke Madinah dengan kemenangan yang menambal rasa sakit dari perang Uhud. Sayangnya, selepas ekspedisi itu, luka di tubuh Abu Salamah menjadi parah. Darah keluar lagi dari bekas lukanya, tak juga berhenti hingga ia menjalani hari di perbaringan, lalu meninggal tak lama setelah ia kembali ke Madinah.

    Siapa pun yang pernah mengenal Abu Salamah pasti terkenang kebaikannya. Apalagi bagi istrinya, Ummu Salamah –yang dari rahimnya dititipkan empat orang anak dari benih Abu Salamah. “Siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah,” kenangnya di siang itu yang masih penuh duka itu.

    Ummu Salamah mengenang suaminya, juga nasihatnya ketika ia pulang dengan wajah gembira. Laqad sami’tu min Rasulillah ﷺ qawlan surirtu bih, katanya. Ia mendengar suatu perkataan yang begitu menggembirakan dari lidah Rasulullah ﷺ: jika seseorang tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan kalimat istirja’ (1), lalu berdoa "Ya Allah, berilah pahala bagiku dari musibah yang menimpaku dan berilah ganti bagiku dengan sesuatu yang lebih baik", maka permintaannya itu dikabulkan (2).

    Kalimat doa itu diulang-ulang Ummu Salamah dalam kesabarannya menutup duka kehilangan suami tercinta. Wajahnya cantik jelita, otaknya cerdas, sikapnya cekatan, juga keturunan pemuka kaum Bani Makhzum yang kaya, Abu Umayyah.

    Baginya, mendapatkan suami lain selepas kepergian Abu Salamah semestinya tak menjadi beban yang begitu dalam. Tetapi, dalam cintanya yang sepenuh hati, ia pula yang kerap bertanya-tanya, ‘Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah’. Tak ada barangkali, batinnya. Ya, tidak ada, barangkali.

    Kita barangkali tak mampu mencapai titik kesebaran setinggi yang pernah ditempuh Ummu Salamah. Ia telah melampaui ujian yang memang dijanjikan Allah: minal khaufi, wal ju’i, wanaqshin minal amwaali wal anfusi, watstsamaraat  (3).

    Kita sering kalah oleh rasa takut tak mendapat bagian dari penghidupan dunia, lalu menyerahkannya sebagai tawanan bagi akhirat kita yang makin tipis. Kita tak kuat menahan rasa lapar yang mendera, dan tak sanggup membayangkan hidup dengan sanggaan batu yang diikat di bawah lambung.

    Kita takluk dalam impian hidup bermewah-mewah sehingga begitu ngeri jika harta berkurang, rekening mengempis, pekerjaan menghilang, dan rumah binasa. Kita begitu hebat menabur rasa cintai hingga begitu dalam pula kita larut di jurang kepedihan ketika mereka yang begitu kita cintai harus kembali ke pangkuan Pemiliknya.

    Kita mengucap sabar di lidah, tetapi memendam lara dan luka di dalam jiwa. Dalam musibah yang berdatangan itu, kita barangkali lebih banyak mengeluh daripada ber-istirja’, lebih sering membalut pikiran dalam rasa kalut dan penolakan daripada menerimanya dengan keridhaan yang lapang.republika/nor

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Anak Tangga Sabar: Belajar dari Kesabaran Ummu Salamah "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0812 6670 0070 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com yLx3F0.jpg