• Mbah Moen dan Atmosfer Etik di Jagad Politik

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Selasa, 06 Agustus 2019
    A- A+

    KORANRIAU.co,PEKANBARU-Sosok KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) sebagai ulama khos sangat mewarnai jagad politik di Indonesia. Kehadirannya di kancah perpolitikan nasional sudah terasa sejak dekade delapan puluhan. Di akhir sembilan puluhan keberadaan dirinya semakin intens menyusul berpulangnya KH Alawy Muhammad, seniornya dalam Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

    Sebagai ulama besar Mbah Moen berhasil memerankan diri sebagai pengusung politik kebangsaan di tengah semangat partisan platform partainya. Secara nasional juga sangat sukses berperan sebagai faktor penyejuk pada setiap momen puncak kontestasi politik. Sulit membayangkan absennya peran ulama sepuh sekarismatik Mbah Moen di tengah panasnya persaingan politik pemilihan presiden belum lama ini.

    Penebar Hawa Sejuk

    Politik yang sedianya syarat dengan spirit moral dan etis mana kala sampai pada tataran praktis cepat sekali bermetamorfosis. Hanya aktor politik yang memiliki karakter moral kukuh saja yang mampu melewati godaan dan jebakan kenikmatan sesaat. Sementara semua mafhum sampai seberapa indeks moral para politisi nasional kita.

    Menumpuknya perkara hukum bernuansa politik di meja pengadilan banyak yang bermula dari proses, aksi dan transaksi politik. Sudah barang tentu hampir semua kasus tersebut melibatkan pelaku dari oknum politisi. Fakta ini menceritakan bahwa atmosfer politik kita disesaki oleh para pelaku politik dengan standar moral kurang memadai untuk menjadi teladan publik.

    Masih karena rendahnya kredibilitas para tokoh dan pekerja politik, atmosfer kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita berkali-kali terkoyak. Jauhnya dari etika dan moral dalam kontes perburuan posisi jabatan publik selalu melahirkan aksi resiprokal yang syarat muatan fitnah, manipulasi, kriminalisasi, dan penyebaran konten hoax.

    Tak cukup dengan itu, para pelaku politik juga tak segan-segan meniupkan sentimen golongan untuk memperoleh kapitalisasi instan. Akibatnya keresahan dan sikap saling curiga terjadi di mana-mana. Polarisasi masyarakat akibat adanya aksi-aksi tidak terpuji tersebut sangatlah tajam dan rawan terpecah belah. Belum lagi jika dibumbui narasi agama, ras, suku, dan antargolongan butuh waktu lama menyembuhkan lukanya.

    Singkat kata, politik Indonesia masih akan selalu membutuhkan guru etika dan pemandu moral berpolitik. Bahkan lebih dari itu dalam kondisi ekstrem seperti Pemilu 2019 yang belum lama berlalu sangatlah memerlukan injeksi serum untuk menghalau racun yang ditebar secara amoral. Mbah Moen bersama para alim ulama sejawatnya sedikit banyak telah mampu berperan sebagai pemberi serum kepada para elit dan penebar hawa sejuk bagi publik.

    Panggilan Tugas

    Tidak banyak golongan ulama yang mampu berperan di banyak aspek kehidupan publik. Umumnya para kiai lebih merasa wajib melayani santri memahamkan ilmu agama, selain juga menanggapi keluhan warga sekitarnya. Dan memang dua tugas ini pun tidak dapat dibilang ringan. Untuk melayani ribuan santri dan masyarakat sekitar dengan penuh keikhlasan, para kiai menyiapkan waktu 24 jam setiap hari. Nyaris semua aspek terkait pernak-pernik kehidupan masyarakat harus dikuasai.

    Sebagai panutan sekaligus rujukan masyarakat, pribadi ulama memang dibentuk menjadi sosok yang mampu menjadi teladan. Konsistensi dalam bersikap haruslah teruji, istikamah dalam menjalankan tugas terutama mengajar agama kepada santri haruslah terjaga.

    Namun karena panggilan tugas yang lebih besar dan mendesak, Mbah Moen menyediakan pribadinya untuk berperan dalam berbagai arena yang lebih luas. Selain di jalur politik sebagaimana telah diuraikan, dirinya juga beberapa kali terekam aktivitas advokasinya. Salah satu yang terbaru adalah keterlibatannya dalam pembelaan masyarakat daerah yang terkena proyek pembangunan pabrik semen di area Pati dan Rembang.

    Bangsa Indonesia merasa sangat kehilangan sosok guru dan teladan kehidupan berbangsa, beragama, dan bermasyarakat dengan berpulangnya Mbah Moen. Namun demikian kita perlu tetap optimis akan hadirnya sosok-sosok penerus dan pengganti setelah kepergiannya. Selamat jalan, Mbah Moen semoga husnulkhatimah dan damai bersama-Nya.

    Eko S. Nurcahyadi aktivis GP Ansor, pernah nyantri di Ponpes Al Falahiyah Mlangi, Yogyakarta

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Mbah Moen dan Atmosfer Etik di Jagad Politik "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com