• Pembangunan Infrastruktur Jalan yang "Green"

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Sabtu, 10 Agustus 2019
    A- A+

    KORANRIAU.co-Terpilihnya kembali Jokowi menjadi presiden periode 2019-2024 memberikan kepastian berlanjutnya program pembangunan infrastruktur yang mengkoneksikan jalur-jalur perekonomian. Jokowi mengklaim pembangunan ini telah mampu menghidupkan perekonomian masyarakat.

    Terlepas berbagai pro-kontra, pembangunan infrastruktur jalan adalah ikhtiar pencapaian tujuan pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Pada tataran teknis, tujuan pembangunan masih meneruskan nomenklatur Millenium Development Goals (MDGs) dengan menerapkan konsep Sustainable Development Goals (SDGs).

    Wajib dicatat bahwa konsep ini berupaya memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kebutuhan generasi mendatang dengan memprioritaskan kalangan marginal. Maka keberlanjutan integrasi aspek ekonomi, masyarakat, dan lingkungan adalah konsekuensi mutlak.

    Pijakan Paradigma

    Konsep SDGs sebagai upaya pencapaian tujuan pembangunan MDGs sudah luar biasa. Namun implementasinya sangat rawan kegagapan tanpa pemahaman paradigma yang benar. Dengan paradigma akan tepat merumuskan persoalan, fokus pada pokok persoalan, mengetahui bagaimana seharusnya menjawab persoalan, serta patokan-patokan yang perlu diikuti.

    Paradigma pembangunan "green" dirasa masih belum usang digunakan sebagai pijakan implementasi konsep SDGs. Dikarenakan paradigma ini menerapkan 3 prinsip dasar yaitu holisme, keberlanjutan, keadilan dan penganekaragaman.

    Ketika sebuah pembangunan memandang seluruh sistem alam semesta menyatu sebagai kesatuan utuh (holism) menjadi awal adanya pandangan untuk tidak berhenti pada suatu masa tertentu (sustainability). Sehingga tidak timbul kepincangan dan tak ada yang dirugikan (equality) utamanya pihak marginal.

    Tertebas Infrastruktur

    Mengembalikan pada paradigma "green" kala melaksanakan pembangunan infrastruktur jalan sama artinya harus menghindari pemisahan atas kebersatuan. Jikapun terpaksa tertebas, maka wajib memberikan fasilitas konektivitas. Bukan hanya yang berkaitan dengan masyarakat (community), tapi juga ekologi.

    Terhadap kejadian pemisahan ekologi justru harusnya yang paling santer disuarakan. Karena sangat sedikit yang berteriak karena merasa tak ada kerugian, kebahayaan, protes, dan tuntutan.

    Pembangunan Tol Trans Jawa disinyalir akan menerabas wilayah Taman Nasional Baluran. Demikian juga pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) Jawa juga akan memangkas kisaran 117 hektar kawasan Hutan Kondang Merak, Malang. Padahal selain menjadi kantong kekayaan keragaman hayati, Taman Nasional Baluran juga menjadi habitat banteng jawa (Bos javanicus). Demikian juga kawasan hutan Malang juga menjadi habitat elang jawa (Nisaetus bartelsi). Kedua satwa menjadi ikon nasional dan menjadi prioritas nasional dalam upaya peningkatan populasi.

    Jika dipaksakan membelah, secara umum akan memutus konektivitas ekosistem dan akan mempersempit daya jelajah satwa. Keberlangsungan kehidupan satwa akan terganggu bahkan memunculkan konflik dengan manusia. Beberapa kali kejadian banteng masuk perkampungan utamanya pada musim kemarau adalah bukti semakin ciutnya luas wilayah jelajah.

    Banteng jawa sendiri merupakan ikon utama ekowisata di Taman Nasional Baluran. Dalam perkembangannya menjadi pengungkit Desa Wisata Kebangsaan Wonorejo berbasis pengelolaan oleh masyarakat. Demikian juga elang jawa menjadi atraksi penting bergairahnya ekowisata berbasis masyarakat di Sendang Biru dan Kondang Merak. Terganggunnya ikon wisata akan menurunkan atraksi sebagai daya tarik wisata. Diyakini semua kalangan, sektor pariwisata mampu menjadi pengungkit aktivitas ekonomi lainnya. Lebih-lebih yang pengelolaannya berbasis masyarakat.

    Ada baiknya berkaca pada Singapura dengan jembatan ecolink BKE yang menghubungkan cagar alam Bukit Timah dan Cagar Alam Central Cathment akibat tertebas pembangunan 6 lajur Bukit Timah Expressway. Tak murah memang untuk membangun ini, sedikitnya 12,3 juta dolar AS harus digelontorkan.

    Namun Singapura menjadi mampu melestarikan keanekaragaman hayatinya yang memang terbatas. Beberapa spesies seperti pelanduk kancil dan merpati zamrud yang sangat terancam punah dapat terpantau lagi di kedua wilayah yang terpisah.

    Konektivitas ekosistem menjadi tidak terputus sehingga keberlangsungan kehidupan flora dan fauna terus berlangsung tanpa gangguan. Demikian pula jalan raya tetap terus bermanfaat menjadi penghubung jalur transportasi.

    Sudah tak ditawar bahwa terbukanya jalur transportasi menjadi pendukung penting geliat perekonomian. Demikian pula keberlangsungan satwa yang hampir punah semakin menjadi daya tarik atraksi wisatawan yang bermuara pada kemanfaatan ekonomi. Lagi-lagi kembali untuk semua.detikcom/nor

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Pembangunan Infrastruktur Jalan yang "Green" "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com