• Buku "Celana Tak Berpisak” Dikupas Tuntas di Unilak

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Selasa, 26 Februari 2019
    A- A+
    FIB Unilak menghelat bedah buku karya Sastrawan Riau Griven. M YUSUF
    KORANRIAU.co, PEKANBARU - Salah satu buku kumpulan esai karya
    Sastrawan Riau,  Griven H Putera berjudul “Celana Tak Berpisak”
    diperbincangkan secara luas oleh segenap sastrawan,  penulis,  penyair
    dan mahasiswa Universitas Lancang Kuning (Unilak), Senin (25/2/2019)
    di ruang seminar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unilak di Lantai Dua.

    Sastrawan Riau, Griven H Putera yang merupakan sosok sastrawan
    terkenal cerdas dan piawai dalam permainan kata-kata serta yang telah
    banyak melahirkan karya-karya sastra.

    Dalam acara Bedah buku Celana Tak Berpisak yang terdiri dari 598 + XII
    itu, juga diisi dengan berbagai pergelaran musikalisasi puisi dan baca
    syair mewarnai perbincangan, diantaranya, grup Kesara Unilak.

    Bedah buku Celana Tak Berpisak ini menghadirkan pembicara Dr. Junaidi
    M Hum,  Syaukani Alkarim dan Griven sendiri yang dimoderatori Hang
    Kafrawi serta turut hadir puluhan mahasiswa Unilak dari Fakultas Ilmu
    Budaya.

    Dekan Fakultas Ilmu Budaya Herman Rante, saat membuka kegiatan yang
    ditaja Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) FIB, menyebutkan, berbagai
    kegiatan sastra memang seharusnya sering dilakukan FIB sesuai dengan
    jurusan.

    ''Tentu saya berharap agar kegiatan seperti Bedah Buku ini lebih
    sering dilakukan di FIB, agar mahasiswa bertambah ilmunya, jam
    terbangnya,  dan pengalamannya,'' ujar Herman Rante.

       Dr Junaidi,  selaku pembedah pertama, buku CTB Griven,  memaparkan,
    bahwa buku ini berisi tentang perjuangan,  keberanian orang Melayu
    dalam membela negeri.  Kesimpulannya ini diambil dari tafsir 'pisak'
    atau 'pesak'.

    ''Ada makna yang lebih luas dalam judul makna tak berpisak ini.
    Keberanian dan perjuangan. Selain itu membicarakan tentang
    keresahan-keresahan tentang Riau.  Sebagian juga berbau nasional atau
    isu global.  Ini respon dari orang yang kritis dengan isu terkini,
    lalu ditulisnya, '' kata Junaidi.

    Syaukani Alkarim,  sastrawan Riau,  memiliki cara bedah yang berbeda.
    Syaukani lebih banyak menyampaikan petatah petitih kepada mahasiswa
    yang hadir, karena mayoritas belum membaca buku tersebut.

    Ia juga mengungkapkan, apa yang dilakukan Griven dengan karyanya itu,
    menunjukkan bahwa Griven adalah contoh sastrawan yang giat menulis,
    melahirkan buku di tengah hiruk pikuk medsos yang jauh dari kertas.

    ''Griven, dengan karyanya ini,  membuktikan bahwa ia tetap dan terus
    tunak membudayakan tulis menulis dan mengajak yang lainnya untuk
    menulis. Inti buku ini adalah sorotan di berbagai bidang dan mengajak
    kita agar memiliki penyangga yang baik agar lebih kuat, '' katanya.

    Perbincangan dan diskusi berjalan hangat. Saling mengisi, jawab
    menjawab. Kegiatan ini dihadiri berbagai sastrawan dan penyair.
    Antara lain, Abel Tasman,  Kunni Masrohanti,  Jefry Al Malay dan
    Bambang Kariyawan.

    Penulis,  Griven H Putra, 'dijegal' peserta untuk tidak bersuara di
    awal perbincangan.  Setelah diskusi berjalan leluasa,  barulah
    moderator kembali mempersilahkan Griven berbicara.

    ''Terimakasih kepada semua sahabat,  sastrawan terkhusus FIB Unilak
    yang menghelat bedah buku saya ini. Semoga apa yang saya rekam melalui
    tulisan ini berarti bagi orang banyak dan bagi Riau kini dan di masa
    akan dating,” katanya.

    Lebih lanjut Griven menambahkan buku CTB ini sesungguhnya tentang
    marwah pemimpin. Agar lahir pemimpin berpisak celananya (yang berani,
    yang kuat, yang perkasa, yang punya harga diri) mesti menyiapkan
    banyak hal, terutama ilmu, iman, seni dan amal.

    “Dari pemimpin yang berpisak celananya tersebut akan melahirkan
    sesuatu berarti bagi masyarakat di masanya dan masa-masa sesudahnya.
    Yaitu pemimpin yang meninggalkan sejumlah karya yang hebat. Karya itu
    dapat menjadi kenangan bagi anak cucu dan menjadi bekal menghadap
    Tuhannya," ujar Griven. (M YUSUF)

    Subjects:

    Berita Meriau
  • No Comment to " Buku "Celana Tak Berpisak” Dikupas Tuntas di Unilak "