• Mengoptimalkan Zakat ASN Riau di Baznas

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Jumat, 19 Oktober 2018
    A- A+



    KORANRIAU.co, Pekanbaru -- Selaku lembaga resmi dari Pemerintah dalam pengumpulan zakat umat, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Riau belum optimal menerima zakat dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) daerah ini. Masih diperlukan keseriusan atau adanya kebijakan dari pimpinan ASN untuk mendorong ASN menyalurkan zakat profesinya melalui Baznas.
     
    Wakil Ketua I Baznas Provinsi Riau dengan tugas pokok Pengelolaan Pengumpulan Zakat, Azwar Aziz, saat dikonfirmasi di kantornya komplek Masjid Raya An-Nur, Jalan Hang Tuah Pekanbaru, mengatakan, bidang pengumpulan zakat merupakan otaknya di Baznas. Karena tanpa ada dana atau uang yang terhimpun dari wajib zakat atau muzakki, Baznas tidak bisa bergerak atau tidak ada yang dikelola.

    Dana Baznas yang terhimpun dari muzakki sasaran pokoknya atau tulang punggungnya adalah dari ASN, yang dihimpun dari zakat profesi atau gaji yang mereka terima tiap bulan.  

    Azwar menyebut langkah yang dilakukan Baznas sudah optimal dalam menggaet atau mengajak zakat profesi ASN itu disalurkan ke Baznas. Langkah itu antaranya dengan sosialisasi ke organisasi perangkat daerah untuk meminta kalau zakat profesi ini dipotong langsung dari gaji yang dibayarkan tiap bulan.

    Tapi menurut mantan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau ini, ASN banyak berdalih kalau gaji yang mereka terima sudah habis, kurang atau tekor. Jadi apa yang harus dipotong lagi karena sudah 'tergadai' membayar pinjaman atau kredit dan melunasi utang.

    Tapi hal ini tidak mungkin, kata Azwar, karena kalau terjadi demikian pasti masih ada gaji dari istri (bila istrinya juga bekerja). Karena tidak mungkin 'dimatikan' pendapatan keduanya, pasti salah satu. 

    “Atau yang 'dimatikan' adalah gaji pokok saja. Untuk berbagai tunjangan pasti ada, tapi masih berdalih tidak wajib zakat. Kalau tidak mau bayar zakat profesi, bayar zakat mal (zakat harta) yang dikeluarkan tiap tahun saja yang dikeluarkan. Tapi hal ini juga tidak optimal dilakukan,” ungkap Azwar lagi, sembari mengakui tiap sosialisasi yang dilakukan di OPD, pasti yang dikirim atau yang diutus untuk menghadiri adalah pegawai golongan rendah.

    Disampaikan juga oleh Ketua Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (FK-KBIHI) Provinsi Riau ini, potensi zakat yang bisa dihimpun dari ASN tingkat Provinsi Riau ini saja cukup besar dengan jumlah sekitar 13 ribu orang. Kalaulah optimal penyaluran yang dilakukan, potensi mencapai Rp2 miliar per bulan atau sekitar Rp25 miliar per tahun.  Namun yang didapat untuk saat ini jauh dari apa yang diharapkan hanya sekitar Rp500 juta per tahun.

    “Kita berharap untuk ke depannya ada hidayah, ada kebijakan khusus  dari pimpinan perangkat kerja yang mengharuskan penyaluran zakat ASN ini lewat Baznas Riau. Sehingga akan banyak dana yang terhimpun dan dalam pengelolaan penyaluran akan betul-betul bisa dimanfaatlan dengan baik oleh penerima atau mustahiq karena bantuan yang diberikan apakah untuk modal uaaha dan lainnya dengan dana yang cukup,” tambahnya, sembari mengatakan kalau bantuan sedikit apa yang bisa diperbuat dalam membantu program pemerintah mengentaskan kemskinan.

    Mengenai besaran potensi zakat Riau secara keseluruhan, doktor ini menyebut bisa mencapai Rp1,8 triliun per tahun. Tapi kenyataannya paling tinggi selana ini yang bisa dihimpun hanya sekitar Rp80 miliar.  

    “Inilah tugas kita dalam mengejar potensi yang ada. Berharap pengusaha-pengusaha secara individu yang ada di Provinsi Riau untuk salurkan zakatnya ke Baznas,” katanya lagi.
    Tahun 2017 dana zakat terhimpun sekitar Rp2,3 miliar, saat ini sudah mencapai Rp3,8 miliar per Oktober 2018.

    Berdasar data monitoring yang dilakukan oleh Baznas Provinsi Riau untuk 2017, Kabupaten Siak merupakan daerah tertinggi jumlah penghimpunan zakat yaitu Rp10,3 miliar lebih.  Disusul Kabupaten Kampar dengan Rp7,8 miliar lebih, Kabupaten Kuantan Singingi Rp6,5 miliar lebih, dan Kota Pekanbaru Rp5,2 miliar lebih.

    Selanjutnya Kabupaten Indragiri Hilir Rp4 miliar lebih, Rokan Hulu Rp3,9 miliar lebih,   Kota Dumai Rp3,8 miliar lebih, ASN Provinsi Riau Rp2,3 miliar lebih, Kabupaten Pelalawan Rp2,2 miliar lebih, Indragiri Hulu Rp1,4 miliar lebih, Kepulauan Meranti Rp1 miliar lebih, Bengkalis Rp823 juta lebih, dan terakhir Kabupaten Rokan Hilir dengan jumlah Rp317 juta lebih. (Ismet)

    Subjects:

    Riau
  • No Comment to " Mengoptimalkan Zakat ASN Riau di Baznas "