• Upaya Restu Melawan Sindrom Rubella Memerlukan Bantuan Dana

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Minggu, 30 September 2018
    A- A+



    KORANRIAU.co, SIAK -- Suasana ruangan di rumah kediaman Sutriawan Saputra dan Endang Sri NIwana di Kampung Benteng Hulu Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau mendadak menjadi lautan air mata saat mereka berdua silih berganti menceritakan anaknya yang menderita Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang merupakan dampak virus campak dan rubella. Apalagi saat orangtua anak malang itu bercerita duka cita mereka mengurus dan mengobati Restu --anak mereka.

    Ketika ditemui pada Ahad (30/9/2018), Sutriawan atau Iwan bercerita, anak mereka bernama Muhammad Restu. Ia lahir pada 16 November 2014 dan saat ini usianya 3 tahun 10 bulan. Restu lahir melalui proses persalinan caesar di salah satu rumah sakit ibu dan anak di Kota Pekanbaru.

    “Restu lahir prematur dengan usia kandungan 32 minggu dengan berat badan 1.600 gram dan dirawat dalam ruangan NICU selama seminggu,” ujar Iwan saat bercerita kepada Koran Riau.

    “Restu juga mengalami Conginetal Rubella Syndrome (CRS) atau Penyakit Kecacatan Akibat Rubella,” tambah Endang.

    Kedua matanya mengalami katarak konginetal dan sudah dioperasi pada usia 4 bulan di RSUP M Djamil Padang, Sumatera Barat. Operasi itu bisa dilakukan dengan bantuan seorang ibu dokter mata yang baik hati. Sekarang Restu menunggu tanam lensa tapi belum dapat terlaksana.

    Dengan suara lirih Endang mengatakan, anaknya sempat mengalami Jantung ASD, namun sudah menutup pada usia Restu menginjak angka 3 tahun. Ia dan suaminya rutin membawa Restu berobat dan kontrol ke dokter jantung anak yang juga baik hati.

    “Namun yang belum pulih yaitu Moderate Membranous Supravalvular PS dan harus terus kontrol lagi sampai benar-benar sembuh,” tambah Iwan

    Lanjut Iwan, telinga Restu tuli sensorineural derajat sangat berat kanan kiri yaitu 110 desibel didapat dari hasil tes OAE, ASSR & BERA. Anjuran dokter THT, Restu harus Cochlear Implant/Implan Rumah Siput dan atau pakai alat bantu dengar (ABD).

    “Alhamdulillah kami baru saja mampu memakaikan alat itu di telinga Restu (meskipun) sebelah kanan saja karena harganya mahal dan lumayan menguras kocek,” sebut Iwan.

    Suasana di rumah itu makin pecah saat isak tangis keluarga saling bersahutan saat ibunda tercinta restu mengatakan, “Restu juga terkena Herniatomy dan sudah dioperasi pada usia 7 bulan.”

    Bertubi-tubi cobaan yang harus dijalani Restu. Endang menyampaikan anaknya itu bahkan pernah mengalami dehidrasi berat dan dirawat dalam ruangan NICU. “Pernah muntaber dirawat selama enam hari dan panas tinggi dirawat selama enam hari,” ucapnya.

    “Sesak nafas dan batuk rejan yang harus di nebu juga pernah beberapa kali, serta alergi susu sapi,” sahut Iwan.

    Iwan mengatakan, Restu tidak seperti normalnya anak-anak lain yang umur 1 tahun sudah bisa berjalan. Ia baru dapat berjalan pada usia dua tahun lebih, itu pun karena setelah melalui fisioterapi di rumah sakit. Dan untuk keluar-masuk rumah sakit, sudah tak terhitung lagi.

    Iwan menambahkan, perjuangannya bersama istri dan anaknya masih panjang, Ia harus memebelikan alat implan rumah siput (cochlear implant) supaya telinga Restu dapat mendengar lebih baik. Juga harus tanam lensa untuk kedua matanya agar fokus melihat.

    “Restu harus banyak ikut terapi d iantaranya terapi okupasi, terapi wicara, pendengaran dan terapi AVT (Auditory Verbal Therapy) tapi belum terlaksana dikarenakan tempat terapinya ada di Kota Pekanbaru,” kata Iwan.

    “Perlu waktu dua sampai tiga jam perjalanan dari tempat tinggal kami, ditambah biaya yang cukup besar,” sahut Endang.

    Suasana mengharu biru kian pecah saat Endang mengenang meninggalnya adik perempuan Restu yang hanya bisa menikmati hidup di dunia selama 7 hari. “Ia kami beri nama Khadijah Qurrota Aini, lahir pada tanggal 26-04-2018 dengan berat badan 1.765 gram dengan usia kandungan 33-34  minggu,” jelas Endang.

    Aini sempat dirawat dalam ruangan NICU dan hasil diagnosa dokter sangat berat sakitnya. Hingga akhirnya pada 2 Mei 2018 pukul 20.05 WIB dia menghembuskan nafas terakhirnya.

    Ia menjelaskan, sebelumnya selama kehamilan atau di dalam kandungan anaknya itu selalu sehat-sehat saja. Mereka pun rutin tiap bulan kontrol ke dokter spesialis kandungan. “Namun Allah lagi-lagi berkehendak lain,” ujar Iwan. Air matanya terjatuh saat bercerita.

    Iwan menjelaskan, dengan keterbatasan biayanya dalam mengobatkan anak, ia sudah berusaha meminta bantuan dari mulai aparatur pemerintahan Kampung, Kecamatan hingga Dinas Sosial. Namun ia mengaku belum ada hasil. “Mungkin hati mereka belum terbuka,” ujarnya.

    Ia berharap, jangan ada lagi yang bernasib seperti Restu dan Aini di Kabupaten Siak khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya.

    “Semoga ada dermawan dan pemangku kebijakan di negeri tercinta ini peduli dan berempati terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (children spesial needs) seperti Restu,” tutup Iwan. (Alfath)



    foto;foto: istimewa

    Subjects:

    Riau Siak
  • No Comment to " Upaya Restu Melawan Sindrom Rubella Memerlukan Bantuan Dana "