• BMR Bisa Jadi Model Nasional

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Senin, 04 Februari 2019
    A- A+
    Mendikbud Muhadjir Effendy berdiskusi bersama sejumlah pengurus LAMR dan pejabat Pemprov Riau, Sabtu (2/2/2019). Tampak Junaidi dan Taufik Ikram Jamil dan Sekdaprov Ahmad Hijazi. (IST)

    KORANRIAU.co, PEKANBARU - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, muatan lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) bisa menjadi model Mulok nasional. Sebab BMR menyarankan cakupan Mulok sejalan dengan keinginan kebudayaan itu sendiri, tidak terbatas pada salah satu elemen kebudayaan, misalnya bahasa yang selama ini cenderung menjadi Mulok di berbagai daerah.

    Menteri Muhadjir mengatakan hal tersebut saat sarapan bersama sejumlah pengurus Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) dan pejabat Pemprov Riau, Sabtu lalu.  Dari LAMR tampak Junaidi dan Taufik Ikram Jamiil. Sedangkan dari Pemprov Riau adalah Sekda Ahmad Hijazi, Asisten I Ahmadsyah Harrofie dan Kepala Dinas Kebudayaan Yose Rizal Zen.

    Menurut Taufik Ikram Jamil, pembicaraan Moluk itu justeru diawali oleh Mendikbud Muhadjir. Ini berkaitan dengan pembicaraannya mengenai pendidikan sebagai wahana untuk memantapkan karakter bangsa. Hal ini dapat disalurkan melalui Mulok yang diusulkan Riau.

    Mendengar Mulok BMR dibicarakan, Sekda Ahmad Hijazi, Asisten I Ahmadsyah Harrofie, dan Kadis Kebudayaan Riau Yoserizal Zen, meminta Junaidi maupun  Taufik Ikram Jamil menjelaskan kepada Mendikbud Muhadjir. Keduanya adalah di antara sosok yang ditugasi LAMR untuk menangani Mulok dengan instansi terkait.
     
    “Iya Pak, Riau mengusulkan agar Mulok itu budaya,” kata Junaidi yang juga Wakil Rektor Bidang Akademis Universitas Lancang Kuning. Persoalannya, lanjut Junaidi, dalam data pokok pendidikan (Dapodik), tidak ada rumpun budaya, tapi bahasa.

    Hal tersebut menjadi persoalan bagi Riau karena bahasa adalah hanya salah satu bagian dari budaya. Di sisi lain, jika bahasa Melayu adalah Mulok Riau, hal itu akan sangat sulit dibedakan dengan Bahasa Indonesia, sebab keduanya hampir sama. Bahasa Indonesia malah memang bersumber dari bahasa Melayu Riau.

    Ekspresi
    Mendengar keterangan itu, Mendikbud Muhadjir mengatakan, dapat memahami kegelisahan Riau tersebut. Oleh karena itu, ia berjanji akan menempatkan kebudayaan sebagai rumpun Mulok sehingga BMR akan muncul dalam Dapodik.
    Di sisi lain ia mengatakan, sepatutnyalah kebudayaan yang dijadikan rumpun. Pasalnya, kebudayaan menyangkut semua sendi kehidupan. Di dalamnya berkaitan dengan berbagai hal, tidak hanya bahasa. Ini semua mengacu pada nilai-nilai.
    Disebutkannya, dalam pembangunan kini dan akan datang, Indonesia memerlukan sumber nilai yang memang justeru berada di dalam kebudayaan. Sedangkan kebudayaan itu sendiri berakar pada daerah-daerah atau bagian dari lokal keindonesiaan.
    Dikatakannya, cara mengekspresikan nilai itu berbeda-beda yang antara lain muncul melalui kesenian. Oleh karena itulah, setiap daerah perlu menggali ekspresi itu dan menjadikannya sebagai suatu sumbangan untuk keindonesiaan.
    Dicontohkannya, semua bangsa mengajarkan bagaimana menghormarti orang tua. Tetapi cara di Barat dengan Indonesia yang terdiri atas daerah, tidak sama. Di Barat, seorang anak bisa saja menggunakan nama ayahnya untuk memanggil orang tua itu, tetapi tidak di Indonesia. Di negara ini, masing-masing daerah juga memiliki perbedaan untuk mengekspresikannya.

    Kepmen
    Menjawab pertanyaan, Mendikbud Muhadjir mengatakan memang, untuk menetapkan sesuatu agar dimasukkan dalam Dapodik, memerlukan keputusan menteri. “Yang tanda tangan Kepmen itu kan saya,” katanya meyakinkan bahwa Mulok kebudayaan sekaligus BMR bisa masuk dalam Dapodik.
    Sejak beberapa bulan terakhir ini, Riau memang gencar memperjuangkan Mulok BMR. Pada 21 Mei 2018 misalnya, Wan Thamrin Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Plt Gubernur, bertemu dengan Mendikbud Muhadjir untuk hal tersebut. Waktu itu pun Mendikbud Muhadjir menyambut baik keinginan Riau dengan BMR-nya.
    Bersamaan dengan hal  itu, LAMR sebagai salah satu unsur memperjuangkan BMR, mengambil beberapa langkah. Di antaranya menyempurnakan kurikulum BMR agar sesuai dengan K-13. Selain itu, dalam bulan April ini, diselenggarakan Training of Trainer (TOT) guru Mulok bekerja sama antara LAMR dengan Tanoto Foaundation. LAMR malah sudah menyiapkan buku sumber pegangan guru yang bisa diakses di lamriau.id. (TIJ)

    Subjects:

    BERITA UTAMA
  • No Comment to " BMR Bisa Jadi Model Nasional "