• Padang Perburuan” Masih Memburu

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Rabu, 30 Januari 2019
    A- A+
    Salah satu adegan dalam lakon “Padang Perburuan”  oleh Lembaga Teater Selembayung, naskah dan sutradara Fedli Azis.  (Foto: Koran Riau/ Taufik Ikram Jamil)

    KORANRIAU.co, PEKANBARU - Kekayaan sumber daya alam memang tidak paralel dengan keadaan kondisi masyarakatnya. Pembangunan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Kotopanjang, Kampar, adalah contoh bagaimana kekayaan alam Riau kurang dapat dinikmati masyarakat tempatan.

    Hal itu merupakan salah satu benang hijau dalam pementasan teater bertajuk “Padang Perburuan” oleh Lembaga Teater Selembayung, di Taman Budaya Riau, hari Ahad (27/1/19). Tampil dua sesi yakni pukul 16.00 dan 20.00, pertunjukan ini ditulis dan disutradara oleh Fedli Azis.

    Dalam pertunjukan itu, Fedli memperlihatkan bagaimana pembangunan PLTA Kotapanjang menenggelamkan sejumlah desa. Ini menyebabkan ratusan ribu  masyarakat harus dipindahkan dengan matlamat harus memulai sesuatu dari baru. Padahal, waduk itu sendiri dibangun untuk suatu keperluan ekonomi yang besar.

    Tentu saja sesuatu yang baru pasti menimbulkan  kertidanyamanan. Malahan sebagaian besar dari mereka hidup susah dibandingkan sebelumnya, manakala tanah gersang di mana-mana, malah beracun yang juga dapat disimbolkan sebagai hancurnya sumber ekonomi warga.

    Lebih dari itu, pembangunan tersebut mengancam situs budaya yakni Candi Muara Takus. Setelah melakukan suatu pergerakan, peninggalan tersebut dapat diselamatkan. 

    Fedli mengolah semua itu di samping dengan narasi, juga dalam bentuk seni yang lain sebagaimana lazimnya pertunjukan teater. Ia menggunakan bunga silat Kampar untuk gerakan-gerakan pelakon. Begitu juga ilustrasi musiknya.

    Dibantu dengan penataan cahaya, Fedli mampu menghadirkan berbagai imej yang menekan. Misalnya saat ia menggambarkan air yang menenggelamkan kampung-kampung, Ia gunakan lampu dengan warna menghijau, disambut dengan rintihan pemainnya.

    Tentu saja, pertunjukan yang diinspirasi esai UU Hamidy tersebut tetap menari, mesku sudah berkali-kali dipentaskan. Tak heran jikan “Padang Perburuan” merupakan pementasan yang patut diperhitungkan tidak saja di Riau, tetapi juga di Sumatera. Tahun lalu misalnya, “Padang Perburuan” meramaikan helat Silek Art Festival. “Padang Perburuan” masih memburu. (TIJ)
  • No Comment to " Padang Perburuan” Masih Memburu "