• Menafsir Bencana

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Jumat, 05 Oktober 2018
    A- A+
    Menafsir Bencana
    Oleh: Amrizal




    "Di antara bencana atau musibah itu memang ada hubungannya secara spiritual dengan kelakuan buruk yang dilakoni seseorang atau sekelompok orang tapi yang perlu digarisbawahi yang mengetahui hakekat sebenarnya hubungan itu adalah Allah swt bukan manusia. Sehubungan dengan itu kita tidak boleh dengan serta merta atau tergesa-gesa untuk menghakimi atau menvonisnya."


    Bencana secara sederhana bisa didefinisikan sebagai fenomena atau peristiwa yang bisa menimbulkan dampak buruk atau keadaan  tidak menyenangkan [menyulitkan] bagi manusia.

    Bencana secara umum bisa dikategorikan ke dalam tiga jenis. Pertama, bencana yang bersifat sunnatullah (alamiah). Kategori bencana seperti ini merupakan suatu keniscayaan yang memang harus terjadi. Misalnya gunung meletus. Yang namanya gunung berapi kalau sudah tiba saatnya memang harus meletus. Manusialah yang harus menyiasati agar dampaknya tidak semakin buruk bagi diri mereka dan harta benda mereka. Inilah yang dinamakan bencana alam.

    Kedua, bencana yang timbul akibat kelakuan buruk yang dilakoni manusia. Misalnya banjir dan tanah lonsor. Bencana ini terjadi karena sebagian manusia mengeksploitasi hutan secara serakah dan berlebih-lebihan sehingga menyebabkan hutan gundul. Termasuk juga bencana asap atau jerebu yang terjadi beberapa tahun yang lalu dikarenakan ulah perorangan atau korporasi yang membakar hutan dan lahan secara sengaja.

    Bencana dalam kategori inilah yang disebut dalam firman Allah swt: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)". (Q.S. Al-Syuara: 30). Dan juga Firman Allah swt: "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [Q.S. al-Rûm: 41]

    Ketiga, bencana, mungkin lebih tepatnya musibah, yang disebabkan kedurhakaan manusia terhadap Allah swt; tidak melaksanakan perintah-perintahNya dan mengabaikan larangan-laranganNya. Musibah dalam kategori seperti ini bisa menimpa seseorang dan bisa juga menimpa banyak orang. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah saw: "Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasiq menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhlaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa, longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi).

    Untuk kategori bencana atau musibah yang ketiga ini dipahami bahwa memang bencana atau musibah itu ada hubungannya secara spiritual dengan perbuatan kedurhakaan yang dilakukan sebagian manusia. Tapi yang perlu digaris bawahi yang mengetahui hakekat sebenarnya hubungan itu adalah Allah swt bukan manusia. Sehubungan dengan itu manusia tidak boleh dengan serta merta untuk menghakimi atau menvonisnya.

    Bila dilihat dari persfektif orang yang mengalaminya (mendapatkannya), bencana (musibah) bisa dimaknai dalam beberapa maksud, yaitu (1) sebagai ujian. Dalam maksud ini, ia merupakan sebuah keniscayaan yang akan dialami oleh orang-orang yang beriman untuk meningkatkan kualitas keimanan atau mengangkat derajatnya. Bencana atau musibah seperti ini sebagaimana dinyatakan Allah swt dalam firmannya: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”(Q.S. Al-Ankabut:2). Dan juga firman Allah: "Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orangorang yang sabar.”[Q.S. Al-Baqarah: 155]. (2) Sebagai teguran. Bencana atau musibah dalam kategori seperti ini dimaksudkan untuk mengingatkan orang yang menerimanya atau orang lain agar kembali ke jalan yang benar. Hal ini berdasarkan firman Allah swt: "Takutlah kamu akan siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS al-Anfal: 25). (3) sebagai siksaan (azab) yang diterimanya di dunia. “Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Q.S. Al-Isra': 16).

    Cuma yang harus dicatat bahwa hakekat bencana atau musibah apakah sebagai ujian, teguran, dan siksaan dikembalikan kepada Allah swt dan si penerimanya. Bukan manusia lainnya sebagai penghakimnya. Di sinilah letak perlunya kebijaksanaan kita dalam menyikapi bencana atau musibah ketika ia telah terjadi pada seseorang atau sekelompok orang. Kita harus menjaga hati dan perasaan saudara-saudara kita yang ditimpa musibah. Sikap yang paling tepat adalah menunjukkan empati dan berusaha memberikan bantuan dan pertolongan semampu kita. Wallahu A'lam.**


    Penulis adalah Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, Riau.

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Menafsir Bencana "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com