• Mubazir, APD Standar WHO Digunakan Untuk Penyemprotan Disinfektan

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Kamis, 21 Mei 2020
    A- A+

    KORANRIAU.co,MERANTI - Alat Pelindung Diri (APD) atau azmat digunakan untuk melindungi seseorang dari berbagai ancaman penyakit. Khususnya penyakit menular yang berbahaya.

    Dengan situasi daerah yang saat ini sedang Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), maka kebutuhan APD sangat penting. Bahkan Tim Gugus Tugas penanganan Covid-19 di Meranti mengaku masih kekurangan. Khususnya yang memiliki kualitas standar dari WHO (Wold Healts Organization).

    Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri SKM mengaku bahwa saat ini, ketersediaan APD masih ada. Namun begitu, ia juga tetap masih membutuhkan APD untuk memaksimalkan upaya penanganan Covid-19 di daerah.

    "Saat ini, APD masih ada. Tapi kalau dibilang masih kurang, kami juga masih kurang," ucapnya, Selasa (19/5/2020).

    Menurutnya penggunaan APD dengan kualitas terbaik sebaiknya mulai dari proses tracking. Namun jika stoknya terbatas, digunakan saat penanganan pasien positif Covid-19 saja.

    "Proses tracking juga harus menggunakan APD dengan kualitas terbaik. Karena jika saat tracking terdapat masyarakat yang positif, tentunya petugas bisa lebih aman," katanya.

    Terkait penggunaan APD saat melakukan upaya penyemprotan disinfektan, Fakhri menganjurkan hal tersebut. Namun tidak juga harus menggunakan APD kualitas terbaik. Walaupun begitu, ia memastikan resiko petugas yang melakukan penyemprotan dengan melakukan tracking berbeda. Sebab saat penyemprotan disinfektan tidak kontak langsung dengan orang, sementara saat tracking melakukan kontak langsung.

    "Walaupun resiko petugas penyemprotan disinfektan tidak sebesar petugas yang melakukan tracking, namun dianjurkan tetap menggunakan pelindung diri.  Tapi tidak mesti juga harus menggunakan APD kualitas terbaik," ucapnya.

    Sementara di Kecamatan Tasikputri Puyu, petugas melakukan penyemprotan disinfektan dengan APD dengan kualitas terbaik atau standar dari WHO. Sejumlah pihak banyak yang menyayangkan hal itu. Bahkan sempat hangat dibahas dan ditanggapi di medsos.

    Fahri mengaku hal tersebut cukup mubazir. Sebab APD juga masih terbatas. Kecuali, jika memang ketersediaan APD kualitas baik tersebut jumlahnya sangat banyak disana (Kecamatan Tasikputri Puyu).

    "Memang tak harus pakai APD terbaik juga. Tapi pelindung itu harus. Atau mungkin mereka punya banyak stok APD kualitas terbaik tersebut. Sehingga mereka gunakan untuk melakukan penyemprotan disinfektan," ujarnya.

    Camat Tasikputri Puyu, Sugiati yang dikonfirmasi wartawan Rabu (20/5/2020) mengakui bahwa bantuan APD tersebut diberikan kepada pihaknya dan dipergunakan untuk penyemprotan di rumah warga yang positif Covid 19.

    Karena penyemprotan dilakukan di dua rumah orang positif Covid 19, sehingga selayaknnya dilakukan menggunakan APD. Bahkan untuk penggunaan APD tersebut pihaknya juga berkoordinasi dengan pihak puskesmas dan Dinas Kesehatan.

    "Karena yang disemprot itu rumah orang yang positif, secara penularannya rumah orang positif itu sama dengan orangnnya, karena dia batuk di situ, tidur di situ," ujarnya.

    Bahkan dikatakan Sugiarti saat itu tidak ada orang yang mau melakukan penyemprotan di rumah warga yang positif Covid19. "Dan pas memakai (APD) itu saya koordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan,  dr Misri,  dan dia bilang penyemprotan itu harus menggunakan APD karena rumah orang yang disemprot itu, rumah orang-orang yang positif," ujarnya.

    Terkait sempat adanya kisruh terkait pemakaian APD tersebut, Sugiati mengatakan menyayangkan karena tidak ada yang meminta penjelasan darinya. "Makanya saya bilang kita satu tim, kita harus menjaga diri kita juga," ujarnya.

    Dirinya juga mengakui bahwa APD tersebut diterimanya melalui pihak kepolisian untuk diserahkan kepada pihak Camat dan puskesmas. "Kapolsek pada saat menyerahkan itu (APD), dia bilang itu diserahkan kepada kantor camat dan puskesmas tapi yabg menyerahkan itu stafnya," ujarnya.

    Sebelumnya, pasangan suami istri (Pasutri) di Kepulauan Meranti, Robert Martias dan Rozita Rusdi, menyumbangkan ratusan Alat Pelindung Diri (APD) kepada tenaga medis yang bertugas pada 8 Puskesmas di Meranti. APD berupa baju hazmat lengkap kacamata pelindung ini disiapkan atas dasar prihatin ke tenaga medis.

    Robert mengatakan, ia sangat prihatin melihat tenaga medis saat bertugas melayani masyarakat. Dalam kondisi seperti sekarang (Pandemi Covid-19) ada tenaga medis masih menggunakan jas hujan. Tentu ini sangat tidak safety ketika menghadapi pasien yang belum diketahui penyakit apa yang dideritanya. Apalagi sudah banyak masyarakat yang juga dinyatakan positif Covid-19.

    "Saya melihat mereka (tenaga medis-red) mengenakan jas hujan, ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Kita ingin tenaga medis semuanya menggunakan pakaian yang aman ketika menangani pasien di tengah pandemi seperti sekarang ini," ujar Robert yang juga ketua komunitas sepeda Selatpanjang Gowes United (Sagu).

    Ditambahkannya lagi, atas dasar prihatin itu, ia bersepakat bersama istrinya, Rozita Rusdi, untuk menyiapkan 100 baju hazmat lengkap kacamata pelindung. Untuk membeli ratusan APD ini, Robert dan istrinya,  Rozita yang merupakan guru PNS di SMA N 2 Tebingtinggi terpaksa harus menggunakan dana tabungan dan THR istrinya. Tahun ini, Robert dan keluarga sudah sepakat untuk tidak merayakan lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya.

    Diakui Robert APD ini telah disumbangkan ke semua Puskesmas di Kepulauan Meranti. Selain itu, APD juga diberikan ke Polsek Tebingtinggi Barat, Polsek Merbau, Kantor Imigrasi Selatpanjang dan organisasi sosial Mitra VJ. Untuk Puskesmas Bandul Tasikputri Puyu, dititipkan melalui Kapolsek Tebingtinggi Barat, AGD Simamora, yang kebetulan anggota (Polsek Tebingtinggi Barat) berangkat ke Desa Bandul dalam rangka pengamanan di sana.

    "Kalau sembako kan sudah banyak yang membantu dan itu lebih ke masyarakat. Sekarang kita fokus membantu tenaga medis. Jangan sampai dalam bertugas, mereka (tenaga medis) tidak terlindungi keamanannya," ujar Robert lagi.

    Adapun rincian ratusan APD yang telah diserahkan Robet dan istrinya diantaranya, ke Pukesmas Tebingtinggi, Puskesmas Tanjungsamak, Puskesmas Anaksetatah, Puskesmas Alahair dan Puskesmas Bandul. Masing-masing Puskesmas ini mendapat 10 set APD berupa baju hazmat dan kacamata.

    Kemudian, di Pukesmas Alai 8 set baju hazmat dan kacamata, Pukesmas Merbau 8 set baju hazmat dan kacamata, Polsek Tebingtinggi Barat 4 set baju hazmat dan kacamatan, Polsek Merbau 5 set baju hazmat dan kacamata, Kantor Imigrasi Selatpanjang 3 set baju hazmat dan kacamata, Mitra VJ sebanyak 2 set baju hazmat dan kacamata serta ke Gugus Tugas 10 set baju hazmat dan kacamata.

    "Tenaga medis di Desa Bandul langsung menggunakan APD tersebut, mereka sudah kirim foto ke saya. Mereka berterimakasih, sebab saat melakukan rapid test ke keluarga PDP yang positif Covid-19,  APD sudah bisa digunakan," cerita Robert.Ahmad
  • No Comment to " Mubazir, APD Standar WHO Digunakan Untuk Penyemprotan Disinfektan "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0812 6670 0070 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com y1GyIO.jpg yLx3F0.jpg