• Pahlawan, Perkotaan, dan Masyarakat "Bystander"

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Minggu, 10 November 2019
    A- A+

    KORANRIAU.co-Sejak dulu, setiap kali mendengar kabar seseorang mengalami peristiwa kecopetan dalam angkot, saya tidak pernah menunjukkan respons terkejut atau semacamnya. Karena menurut saya peristiwa semacam itu adalah peristiwa yang lumrah saja terjadi di kawasan perkotaan yang rawan kriminalitas. Bahkan saya sering diam-diam menyalahkan korban --salah sendiri karena tidak hati-hati.

    Entah terkena karma atau semesta sedang mencandai saya karena begitu tega menyalahkan korban, suatu saat saya diperhadapkan pada satu peristiwa di mana saya harus menyaksikan sendiri seorang pencopet sedang mencoba mengutil dompet seorang penumpang wanita di dalam angkot. Waktu tempuh tujuh menit dari Stasiun Pondok Cina ke Terminal Depok, menjadi tujuh menit terlama sepanjang karier saya menumpangi angkot ibukota.

    Sepanjang perjalanan, saat si copet sedang memainkan aksinya diam-diam, dada saya disesaki gejolak batin dan pertanyaan-pertanyaan. Benak saya dilanda kepanikan besar. Saya harus melakukan sesuatu! Tapi apa? Di angkot yang laki-laki hanya saya dan si pencopet, tiga orang sisanya termasuk korban adalah perempuan, bagaimana jika si pencopet berbalik menyerang saya? Bagaimana jika si pencopet bersenjata tajam dan menusuk saya? Setidaknya lakukanlah sesuatu agar si pencopet gagal, tapi bagaimana?

    Saat saya disibukkan oleh perdebatan sengit di kepala, angkotnya ternyata sudah tiba di depan Terminal Depok. Saya turun tanpa sempat melakukan apa-apa, meninggalkan tiga orang perempuan dengan seorang pencopet di dalam angkot dan rasa bersalah yang bergentayangan di benak saya. Saya seharusnya mengambil tindakan.

    Bukannya takut atau apatis, tapi lebih karena saya kebingungan bagaimana harus merespons situasi semacam itu dengan tepat. Situasi semacam itu jika direspons dengan tidak tepat, bisa tereskalasi dengan sangat cepat menjadi situasi yang sangat genting dan membahayakan, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi seluruh penumpang. Sangatlah logis jika saya tidak mengambil risiko itu.

    Lagi pula situasi semacam itu bukanlah situasi yang dialami seseorang sehari-hari. Apalagi bagi saya waktu itu, seorang anak rantau dari daerah yang belum hafal betul kondisi kriminalitas kawasan megapolitan seperti Jakarta. Sehingga mekanisme penanganan subjektif terhadap situasi semacam itu, bahkan pada tahapan mental seperti menghadapi rasa panik, sama sekali belum terbentuk dalam kesadaran saya.

    Orangtua, sekolah, kampus hingga pemerintah juga tidak pernah membekali saya langkah-langkah praktis yang harus saya ambil jika berada pada situasi semacam itu. Jadi mau tidak mau, keputusan yang paling masuk akal untuk saya ambil saat itu adalah diam, sekalipun itu sangat mengganggu batin saya.

    Seorang rekan yang sudah lama tinggal di Jakarta mengamini keputusan yang saya ambil setelah pengalaman itu saya ceritakan. Saya masih sangat ingat bagaimana ia begitu khidmat menceramahi saya tentang bagaimana kejamnya ibu kota. Lalu membekali saya dengan daftar beberapa hal yang boleh dan tidak boleh saya lakukan agar dapat hidup tentram di Jakarta. Saya sudah lupa perihal apa saja yang ada dalam daftar itu, namun ada satu yang sampai sekarang masih terus melekat dalam ingatan saya. Kalau korbannya bukan elo, nggak usah ikut campur deh.

    Khotbah ini terus melekat dalam ingatan saya, sebab saya merasa ada yang mengganjal. Bagaimana mungkin membiarkan kejahatan terjadi di sekitar kita hanya karena korbannya bukan kita? Bukankah sejak kecil kita dianjurkan untuk membantu sesama yang ditimpa kesulitan? Rekan saya dengan santainya mengatakan bahwa kenaifan semacam itu bisa saja membunuh saya suatu saat nanti. Saya mafhum, betapapun terasa mengganjal.

    Sikap semacam ini barangkali merupakan sebuah kearifan khas urban yang terbentuk atas akumulasi pengalaman kolektif masyarakat perkotaan setelah didera berbagai macam bentuk kriminalitas. Saya menyebut sikap semacam itu sebagai kearifan sebab pada tingkatan tertentu memang dapat membuat seseorang terbebas dari kondisi yang dapat membahayakan nyawanya. Namun pada tingkatan yang lain, sikap semacam itu juga mencerminkan adanya ciri bystander effect dalam masyarakat yang cukup mencemaskan.Anhar Dana Putra/detikcom/nor

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Pahlawan, Perkotaan, dan Masyarakat "Bystander" "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com