• Bumi Pertiwi Syirik: Sanskrit dan Islam Asia Tenggara

    E d i t o r: redkoranriaudotco
    Published: Rabu, 06 November 2019
    A- A+

    KORANRIAU.co-Gurukula merupakan istilah bahasa Sanskrit dalam tradisi Hindu, maknanya sepadan dengan istilah "pesantren" dalam tradisi Islam Asia Tenggara. Istilah "gurukula" merupakan gabungan dari 2 kata, "guru" (lit. "pengajar kitab suci Weda"), dan "kula" (lit. "kediaman"). Jadi istilah "gurukula" bermakna "tempat kediaman/tempat sang guru yang mengajarkan kitab suci Weda kepada para murid-muridnya"). Salah satu kitab suci agama Hindu, yakni kitab Srimad Bhagavatam Purana VII.12.1 tertulis demikian:

    Sri Narada uvaca
    brahmacari guru-kule vasan danto guror hitam
    acaran dasavan nico gurau sudrdha-sauhrdah.

    Sri Narada said: "A student should practice completely controlling his senses. He should be submissive and should have an attitude of firm friendship for the spiritual master. With a great vow, the brahmacari - student who learns the Veda - live at the gurukula - house of the spiritual master - only for the benefit of the guru", see A.C. Bhaktivedanta Srila Prabhupada, Srimad Bhagavatam Purana (Mumbai: the Bhaktivedanta Book Trust, 1999), hlm. 681

    Istilah "pesantren" juga berasal dari bahasa Tamil, yakni "santri" (lit. "murid yang belajar kitab suci Weda"), sedangkan dalam bahasa Sanskrit disebut "sastri." Sementara itu, kitab suci Weda dalam bahasa Sanskrit disebut "sastra." Apakah sebagai seorang Muslim kita dilarang menggunakan istilah "guru"? Apakah sebagai seorang Muslim kita dilarang menggunakan istilah santri? Apakah sebagai seorang Muslim kita juga dilarang menggunakan istilah sastra? Apakah sebagai seorang Muslim, kita juga dilarang menggunakan istilah bumi "pertiwi"?

    Dalam ilmu nahwu lafadz ardhun itu sudah dianggap muannats ( perempuan ) sebgai bukti dhomir ardhun itu ها bukan ه . Misalnya والارض وما طحاها. Secara lafadz Arab saja domir ها tsb menuju kepada ارض. Kenapa tdk pakai ه padahal secara lafadz tidak ad tanda ta' marbutoh menunjukkan perempuan? Jawaban yg saya temukan dlm ilmu nahwu tersebut karena sudah ma'lum dalam konteks Quran sudah dari awal memang begitu. Dari segi arti ارض yang bergenre feminin penggunaannya sepadan dengan kata bumi pertiwi yang bergenre feminin dalam bahasa Sanskrit atau pun Hindi. Bukankah selama ini kita berkata bahwa bumi pertiwi itu sebatas bahasa saja, dan bukan menganggap adanya tuhan selain ALLAH?

    Apakah sebagai seorang Muslim kita juga dilarang menggunakan nama "Sri" karena sebagai pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai "dewi padi"? Bila menggunakan nama "Sri" dilarang, maka nama ibukota negara Brunai Darussalam seharusnya diganti, karena itu tanda kesyrikan menyembah Dewi Sri. Bila menggunakan nama "Sri" dilarang, maka semua gelar kehormatan "Dato' Sri" di Malaysia seharusnya dihilangkan.


    Begitu juga penggunaan istilah "guru" dalam lembaga pendidikan Islam seharusnya dibuang, karena sebutan "guru" asalnya mengandung makna "pengajar kitab suci Weda." Apakah Anda sepakat membuang semua istilah Sanskrit dalam bahasa kita, termasuk istilah guru, santri, sastra, dewi, Sri, dan pertiwi?

    Quran terjemahan bahasa Hindi, diterbitkan dengan menggunakan aksara "Dewa-nagari." Quran terjemahan bahasa Hindi ini diterbitkan oleh penerbit Salafi, Dar as-Salam, Saudi Arabia. Menariknya, Qs. As-Syam 91:1-2 teks terjemahan bahasa Arab dan Hindi tertulis demikian.

    والشمس وضحها
    والقمر اذا تلها

    qasam hai Surya ki aor us ki dhap ki
    qasam hai Candra ki jab ke pice aye

    Istilah والشمس (wa Al-Syams), diterjemahkan "qasam hai Surya ki" (demi Surya), sedangkan istilah والقمر (wa Al-Qamar), diterjemahkan "qasam hai Candra ki" (demi Candra). Dalam bahasa Sanskrit, "Surya" sepadan dengan "Syamsun" bergenre maskulin, dan "Candra" sepadan dengan "Qamarun" bergenre feminin. Apakah penerbit Salafi di Saudi Arabia mengajarkan kemusyrikan karena mengajarkan bersumpah demi Dewa Surya, sebagai dewa matahari? Apakah penerbit Salafi di Saudi Arabia mengajarkan kemusyrikan karena mengajarkan bersumpah demi Dewi Candra, yakni dewi bulan? Apakah penerbit Dar As-Salam di Saudi Arabia mengajarkan penggunaan aksara yang bernuansa kemusyrikan karena Quran terjemahan bahasa Hindi diterjemahkan dengan menggunakan aksara "Dewa-nagari"? Bahkan seharusnya semua mushaf Al-Quran yang tercetak sekarang ini seharusnya membuang semua angka Hindi yang dipakai dalam mushaf sebagai penanda ayat dan sebagai penanda halaman lembaran Quran.


    Lagi pula bukankah semua angka yang dipakai dalam mushaf Al-Quran itu adalah angka Hindi? Apakah Anda tahu apakah yang disebut sebagai 'adadul Hind dalam Quran? Itulah "angka Hindu." Apakah Anda sudah semakin cerdas bila menghilangkan yang bernuansa Hindu di dalam Quran? Silakan Anda menjawabnya sendiri bila Anda orang yang bernalar. Masihkah Anda mau menghilangkan istilah "pertiwi" atau pun istilah "Sri" dalam bahasa kita di Indonesia? Apakah Anda masih ingat ada orang yang bernama Abdus Syams dari kalangan bangsa Arab Quraisy? Apakah artinya عبد الشمس ('Abdus Syams) hanya sekedar bermakna "hamba matahari" atau justru bermakna "hamba Dewa Matahari"?

    Begitu juga bila istilah "Santri" dipersoalkan, maka "Hari Santri" lebih baik diganti saja menjadi "Hari Taliban." Apakah Anda bisa membayangkan bila warga Muhammadiyah (MD) tatkala menyanyikan lagu mars Muhammadiyah yang berjudul "Sang Surya"? Apakah lagu mars ini dapat dikategorikan sebagai tindakan syirik karena orang-orang Muhammadiyah menyebut nama dewa Surya?

    Kalau ada orang yang bukan ahli berbahasa Sanskrit, dan kemudian berbicara di ruang publik, pasti akan menyesatkan banyak orang dan timbullah kegaduhan. Tulisan ini saya buat sebagai jawaban bagi mereka yang mempermasalahkan penggunaan "Sri" atau "pertiwi" yang kasusnya sedang viral saat ini. Padahal kata "pertiwi" berasal dari bahasa Sanskrit, yakni "prthivi" artinya "bumi." Apakah Anda sudah memahami bahasa Sanskrit dan bahasa Indonesia secara baik dan benar?republika/nor

    Oleh: Menachem Ali, Dosen Philology Universitas Airlangga

    Subjects:

    Kolom
  • No Comment to " Bumi Pertiwi Syirik: Sanskrit dan Islam Asia Tenggara "

INFO PEMASANGAN IKLAN HUB 0813 7118 3788 / 0811 7673 35, Email:koranriau.iklan@gmail.com